BanjarmasinPost/

Agama Anak Muda

Hari itu, saya diberi kepercayaan menjadi salah seorang penguji dalam seleksi tersebut. Peminat PPN cukup banyak.

Agama Anak Muda
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Senin, 10 April 2017 silam. “Apa sebenarnya yang Bapak tanyakan sehingga ada dua peserta sampai berurai air mata?” tanya Herlena, panitia seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPN), bertempat di Gedung Pramuka, Banjarmasin. Saya hanya tersenyum. “Pokoknya ada aja…” jawab saya diplomatis.

Hari itu, saya diberi kepercayaan menjadi salah seorang penguji dalam seleksi tersebut. Peminat PPN cukup banyak. Pendaftar awal mencapai 162 orang. Namun setelah diseleksi, hanya 46 orang yang lolos untuk mengikuti wawancara. Mereka umumnya adalah mahasiswa tahap akhir atau baru sarjana. Rata-rata mampu berbahasa Inggris dengan baik dan telah meraih berbagai prestasi yang membanggakan.

Ada sembilan bidang yang diujikan, dan saya diminta menguji bidang keagamaan saja. Saya diberi keleluasaan untuk menentukan pertanyaan yang diajukan. Setelah berpikir sejenak, saya merumuskan dua pertanyaan utama. Pertama, mengapa Anda merasa perlu menganut agama Anda? Kedua, di antara berbagai ajaran dan praktik keagamaan, apa yang paling membuat hidup Anda terasa bahagia?

Dua orang peserta, entah apa sebabnya, menangis setelah mendengar dua pertanyaan itu. Para peserta lainnya tampak terkejut, seperti tak menyangka akan muncul pertanyaan semacam itu. Kadangkala saya harus menjelaskan pertanyaan itu sampai benar-benar dipahami oleh peserta. Dapat diduga, jawaban peserta bervariasi dan otentik, meskipun tak menutup kemungkinan ada pula yang berpura-pura.

“Saya menganut agama ini karena memberikan aturan-aturan yang jelas sebagai pegangan hidup,” kata satu peserta. “Saya beragama karena bimbingan orangtua. Orangtua bagi saya sangat penting karena keridaan dan kemurkaan Allah tergantung pada mereka,” katanya. “Saya yakin dengan agama saya karena ajaran tauhid,” kata yang lain. “Bagi saya, ajaran cinta kasih sangat penting,” kata yang lain lagi.

Pertanyaan kedua dijawab lebih bervariasi. “Berdoa sangat penting. Dalam berdoa, saya bisa mengadu kepada Tuhan.” Ini dikatakan penganut Islam dan Kristen, sementara penganut Budhis mengaku suka bermeditasi. “Menjaga kehormatan adalah ajaran agama yang amat mulia,” kata yang perempuan. “Hati saya terhibur ketika ikut menyenandungkan syair-syair maulid al-Habsyi,” kata yang lain.

Selain penghayatan keagamaan yang bersifat personal di atas, ada pula jawaban yang bernuansa sosial. “Bagi saya, yang paling membahagiakan dari agama adalah silaturahmi, menjalin kasih sayang antarsesama,” katanya. “Ajaran agama yang membahagiakan saya adalah sedekah. Dengan sedekah, kita menunjukkan kepedulian pada sesama. Kita bahagia dengan membahagiakan orang lain,” kata yang lain.

Secercah Cahaya
Setelah mereka menjawab dua pertanyaan di atas, saya mengajukan pertanyaan ketiga: Apakah Anda pernah bergaul dengan penganut agama lain? Jika pernah, adakah pengalaman yang sangat mengesankan selama Anda bergaul itu? Jika peserta tersebut nonmuslim, saya tambah lagi pertanyaannya: Apakah sebagai penganut agama minoritas Anda pernah mengalami diskriminasi?

Hampir semua peserta menjawab pernah bergaul dengan penganut agama lain, bahkan dengan teman yang mengaku ateis. Semua mengaku dapat bergaul akrab dengan teman yang berbeda keyakinan tanpa rasa sungkan dan curiga. “Teman-teman saya yang muslim, tidak segan main ke rumah saya saat liburan Natal. Ibu saya memang menyediakan masakan halal untuk mereka,” kata yang beragama Kristen.

Seorang peserta muslim bercerita. “Saya punya sahabat muslim, tetapi ayahnya Kristen. Ketika ayahnya meninggal, saya menghadiri upacara pemakamannya. Teman saya itu bertanya, ‘Apakah ayahku akan masuk surga? Akankah aku bertemu dengannya?’ Saya sungguh terharu dengan pertanyaan sahabat saya itu. Saya hanya mampu mengatakan, sebaiknya kita serahkan semuanya kepada Tuhan.”

Semua peserta nonmuslim mengaku tidak pernah didiskriminasi temannya. Yang mendiskriminasi justru orang dewasa. Seorang peserta mengaku pernah disingkirkan dalam satu seleksi semata karena dia nonmuslim. Dia juga pernah dipaksa memakai jilbab, meskipun akhirnya berhasil ditolak. “Kadang saya merasa kesepian di kelas saat teman-teman muslim istirahat Salat Zuhur,” kata yang lain.

Saya bertanya dalam hati. Apakah (sebagian) mereka hanya berpura-pura? Mungkin saja. Namun setidaknya, jawaban-jawaban mereka adalah secercah cahaya di balik potret buram para pemuda yang suka berteriak penuh amarah dan benci atas nama agama. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help