Berita Banjarbaru

NEWSVIDEO : Mengais Rezeki sebagai Pengupas Kulit Galam

Airnya asam tak bisa dijadikan lahan untuk bertani. Sementara bantuan dari pemerintah tak pernah sampai ke daerah mereka.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Menjadi pengupas kulit galam sudah dijalani Masitah selama lima tahun ini. Pekerjaan menjadi pengupas kulit galam terpaksa harus dilakukan demi kebutuhan rumah tangga.

Dia yang hidup bersama satu anaknya harus mencari nafkah untuk sekolah anaknya dan makan.

Kawasan Kampung Pengayuan, RT 3, RT 2 dan RT 1 Landasanulin Selatan, menurut Masitah merupakan tanah yang sulit untuk dijadikan lahan pertanian.

Airnya asam tak bisa dijadikan lahan untuk bertani. Sementara bantuan dari pemerintah tak pernah sampai ke daerah mereka.

Tiap Satu batang kayu galam kecil yang dikupasnya, Masitah mendapat upah Rp 200, paling besar berupah Rp 500.

Namun, upah Masitah tergantung dari harga galam. Jika harga galam besar turun menjadi hanya Rp 3.000, maka ia hanya mendapatkan upah Rp 300 per batang yang ia kupas.

Rata-rata setiap hari mendapatkan upah Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu. Penghasilan itu sudah sangat minim saat kebutuhan pokok dan listrik mulai naik kini.

"Dulu listrik Rp 20 ribu itu bisa untuk setengah bulan, sekarang paling 10 hari," ungkapnya, Selasa (9/5/2017).

Penulis: Milna Sari
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help