BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Meneladani Apa (Tanpa Tanda Tanya)

Kali ini, umat Budha merayakan momentum ini dengan tema “Keteladanan Dasar Kemuliaan”.

Meneladani Apa (Tanpa Tanda Tanya)
BPost Cetak
Ilustrasi 

Hari ini, umat Budha merayakan Trisuci Waisak 2557/2017. Momentum untuk mengingat tiga peristiwa besar yakni kelahiran Sidharta Gotama, momen Sidharta mendapatkan pencerahan ilmu, dan hari mangkatnya Buddha.

Kali ini, umat Budha merayakan momentum ini dengan tema “Keteladanan Dasar Kemuliaan”. Tema yang menjadi pengharapan bagi para umat Budha, sekaligus diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh umat manusia.

Harapan itu adalah, agar semua manusia bisa mencontoh para pemimpin, orang tua (termasuk orangtua), tokoh dan siapa saja (tidak harus pemimpin, tidak harus tokoh, tidak harus siapa-siapa) untuk mencapai kemuliaan. Tema tersebut juga menjadi pengharapan agar para pemimpin, orang tua (termasuk orangtua), tokoh dan siapa saja (tidak harus pemimpin, tidak harus tokoh, tidak harus siapa-siapa), benar-benar bisa menjadi tauladan bagi sesama.

Dengan demikian, semua orang (tidak hanya orang hebat, pemimpin atau tokoh) patut menjadi tauladan bagi orang. Pada saat bersamaan, para pencari tauladan juga bisa menjadi tauladan bagi yang lain (termasuk bagi orang yang ditauladaninya).

Di saat itulah, ketika kita bisa meneladani siapapun dan atau diteladani siapapun, kita akan mendapatkan kemuliaan hidup. Sebab, kita telah bisa berbuat/berkata/berpikiran baik, sekaligus memiliki kerendahan hati karena masih mau meneladani orang lain.

Sayangnya, praktik kehidupan kita tidaklah (belumlah) demikian. Kita belum bisa berlaku seperti pepatah: Lihatlah (ikutilah) berdasarakan apa yang dikatakan (diperbuat) dan jangan melihat (mengikuti) atas dasar siapa yang mengatakan (melakukan).

Artinya, peneladanan yang kita lakukan masih sangat bergantung identitas tertentu. Kita baru tergerak mencontoh (mendengar/mengikuti) seseorang, ketika merasa ‘satu merek’ dengannya. Sedangkan terhadap pihak yang ‘bermerek lain’ kita mengabaikan begitu saja. Bahkan, kita secara serta merta memastikan bahwa semua yang dikatakannya dan yang diperbuatnya adalah salah.

Sikap ini, semakin mengental dan menyeruak begitu dahsyat pada akhir-akhir ini. Bahkan, tidak sekadar enggan meneladani ‘merek lain ‘, kita juga sudah berani menyebut ‘merek lain’ sebagai sesuatu yang buruk, jelek, bahkan layak dimusuhi.

Karena itulah, di saat hari wasak ini umat Budha haruslah merasa beruntung karena punya tema peringatan yang dahsyat. Jadi, mari kita intropeksi diri, sudahkan kita berteladan berdasarakan ‘apa’ dan tidak sekadar karena ‘siapa’.

Demikian juga umat beragama lain di negeri ini, di saat libur waisak, di saat kita tidak disibukkan rutinitas pekerjaan, kita menjadi punya waktu untuk merenungi tentang ‘apa’ saja yang sepatutnya kita tauladani dan bukan sekadar ‘siapa’ saja yang layak kita tauladani.

Selamat hari Trisuci Waisak 2557. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help