Sertifikasi Halal

UMKM Keberatan Biaya Sertifikasi Halal, Banyak Restoran Mengurus ke MUI Pusat

Usaha perlu sertifikat halal MUI mulai dari pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), pebisnis restoran, bakery, usaha makan lainnya hingga kosmetik.

UMKM Keberatan Biaya Sertifikasi Halal, Banyak Restoran Mengurus ke MUI Pusat

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sertifikasi halal sebuah keniscayaan. Namun ternyata masih banyak usaha masyarakat yang belum mengurus sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kendalanya macam-macam. Ada yang kurang paham prosedur pengurusan, ada pula yang merasa biaya pembuatan sertifikasi mahal.

Mereka yang perlu sertifikat halal MUI mulai dari pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), pebisnis restoran, bakery, usaha makan lainnya hingga produsen kosmetik.

Karena merasa mahal, cukup banyak UMKM yang belum mengurus sertifikat halal dari MUI.

Mahalnya biaya sertifikasi tidak hanya dipersoalkan pelaku UMKM. Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina menyatakan label halal pada produk merupakan suatu yang penting sebagai jaminan bagi konsumen muslim. Namun, lanjut Ibnu, perlu diusulkan kepada MUI agar biaya sertifikasi jangan terlalu besar karena memberatkan pengusaha kecil. “Lain halnya pengusaha besar yang memang memiliki anggaran khusus untuk sertifikasi,” kata Ibnu, belum lama tadi.

Selain mahal, pengurusan sertifikat halal juga tidak mudah. Bahkan, perlu waktu cukup lama untuk bisa mendapatkannya.

Contohnya, Three Lights Cake, bakery dan restoran yang berlokasi di Jalan Banjar Indah Nomor 15D, Banjarmasin. Three Lights Cake cukup terkenal di Banjarmasin dan menjual produk-produk kue, makanan dan minuman. Hingga kini usaha masih menunggu tim audit dari MUI Kalsel untuk melakukan survei.

“Kami sudah mengajukan berkas pendaftaran sertifikasi halal, ada dua yaitu untuk bakery dan restoran. Sekarang masih menunggu tim audit dari MUI,” kata Merry, manajer Three Lights Cake, kemarin.

Untuk mendapatkan sertifikat halal dari MUI Kalsel pada produk makanan, minuman, kosmetik atau obat-obatan, setidaknya dibutuhkan biaya minimal Rp 1,3 juta.

Biaya ini bisa saja cukup besar bagi sebagian usaha mikro dan kecil. Penelusuran BPost, di Banjarmasin, beberapa pelaku usaha mikro, kecil dan menengah mengeluarkan biaya di atas Rp 2 juta untuk mendapatkan sertifikat halal.

Hajjah Maspah, pengusaha kerupuk ikan dan udang di Jalan Kuin Utara, Banjarmasin dan Ryan pemilik usaha Casheila Food & Pack sudah hampir dua tahun mengantongi sertifikat halal dari MUI Kalsel.

Pada Juni 2017 ini sertifikat milik Maspah akan kedaluwarsa dan harus diperpanjang. Ternyata, biaya memperpanjang sertifikat dan proses pembuatan sertifikat baru tidak jauh berbeda. “Biayanya seperti membikin baru,” ujar Maspah.

Itu sebabnya, dia merasakan biaya perpanjangan sertifikasi sebesar Rp 2 juta cukup memberatkan dirinya yang merupakan pengusaha mikro dan kecil. “Saat ini satu sertifikat berlaku untuk dua produk kerupuk, ikan dan udang,” ujarnya.

Sementara Ryan, pemilik usaha Casheila Food & Pack masih beruntung. Soalnya dari tiga sertifikasi halal yang dimiliki dari tiga macam produk, satu di antaranya biaya sertifikasi dibantu oleh pemerintah.

Dia juga menyebut proses yang dilalui tidak begitu rumit, persyaratan pun tidak terlalu sulit diikuti karena biasanya diarahkan untuk pengisian formulir, berkas apa saja yang dibutuhkan dan persyaratan lainnya. (acm)

Baca Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Kamis (11/5/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved