BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Fikrah

Perjalanan Terjauh dan Terberat

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid. Maka berbahagialah dirimu wahai anakku, bila sejak kecil engkau telah terbiasa melangkah

Perjalanan Terjauh dan Terberat
dok BPost
KH Husin Naparin

Oleh:KH Husin Naparin
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

Seorang ibu berkata kepada anaknya: “Tahukah kamu nak, perjalanan terjauh dan terberat bagi seorang lelaki adalah perjalanan ke masjid. Sebab banyak orang kaya raya tidak sanggup mengerjakan jangankan sehari lima waktu, bahkan banyak pula yang seminggu sekali pun terlupa. Tidak jarang pula seumur hidup, tidak pernah singgah ke sana.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid, karena orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu menemukannya; walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitas Eropa ataupun Amerika, mudah melangkahkan kaki ke Jepang, Australia dan Korea dengan semangat yang membara. Walaupun mereka mampu namun ke masjid tetap saja perjalanan yang tidak mampu mereka tempuh, walau telah bertitel S3.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid, karena para pemuda yang kuat dan bertubuh sehat yang mampu menaklukkan puncak Gunung Bromo dan Merapi, pun sering mengeluh ketika diajak ke masjid. Alasan mereka pun beragam, ada yang berkata sebentar lagi, ada yang berucap tidak nyaman dicap alim.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid. Maka berbahagialah dirimu wahai anakku, bila sejak kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki ke masjid, karena bagi kami, sejauh manapun engkau melangkahkan kaki, tidak ada perjalanan yang paling kami banggakan selain perjalananmu ke masjid.

Biar aku beri tahu rahasia kepadamu, sejatinya perjalananmu ke masjid adalah perjalanan untuk menjumpai Rabb-mu. Itulah perjalanan yang diajarkan oleh Nabi-mu, serta perjalanan yang akan membedakanmu dengan orang-orang yang lupa akan Rabb-nya. Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid, maka lakukanlah walau engkau harus merangkak dalam gelap subuh demi mengenal Rabb-mu. “

Dalam sebuah pengajian, seorang ustadz bertanya kepada jemaah: “Pak seandainya rumah Anda dan tempat kerja Anda di Banjarmasin, lalu atasan Anda menyuruh Anda untuk pindah kantor, tidak usah jauh-jauh, tetapi ke Banjarbaru saja dan gaji Anda dinaikan dua kali lipat, mau tidak?” Jemaah menjawab: “Tentu mau sekali ustadz”

Sang ustadz pun menerangkan: “Nah sekarang kalau Allah yang menawarkan kepada Anda dengan satu tawaran “Wahai hamba-Ku salatlah kalian berjemaah di masjid tepat waktu, nanti Aku lipatgandakan pahala salatmu dua puluh tujuh kali lipat, dan setiap langkah kakimu menuju ke masjid akan Aku gugurkan dosa-dosamu, dan akan Aku angkat derajatmu, dan akan Aku berikan solusi dari seluruh masalahmu, dan akan Aku mudahkan dan cukupkan urusan duniamu, dan akan Aku berikan kamu kemenangan,” maukah kalian menerima tawaran dari Allah?

Jemaah, ada yang terdiam, ada yang bilang mau, ada yang menangis.

Ustadz berkata lagi: “Jika dengan tawaran ganjaran sehebat ini Anda belum juga tergerak untuk ke masjid, lantas dengan cara apalagi Allah menawarkan ke Anda? “Seringkali untuk urusan dunia kita lebih memilih yang banyak ganjarannya, sedangkan untuk urusan akhirat kita lebih memilih yang sedikit ganjarannya. “Jadilah muslim yang cerdas brother... cerdas dalam memilih. Mintalah perlindungan dan pertolongan Allah dengan Rahmat-Nya sehingga engkau dimudahkan dalam beribadah.”

Hari ini adalah 15 Syakban 1438 H. Tadi malam banyaklah umat Islam yang beribadah ke masjid. Para ulama dalam setiap kesempatan membimbing dan menerangkan kepada mereka, bahwa salat berjemaah itu bukan hanya pada malam nishfu Syakban, tetapi pada setiap salat fardu lima waktu dalam sehari semalam. Tetapi salahkah, seorang muslim ke masjid mampunya hanya pada malam nishfu Syaban?

Nabi SAW bersabda: idza kanat lailatun-nishfi min sya’ban, fa quumuu lailaha wa shumuu nahaaraha, artinya “Apabila malam nishfu Syakban maka dirikanlah salat malamnya dan puasalah pada siang harinya.”

Diriwayatkan, pada malam nishfu Syakban Nabi Muhammad SAW mendirikan salat berpanjang malam. Umat Islam yang tidak mampu salat berpanjang malam seperti beliau, salahkah jika mereka hanya mampu salat Magrib dan Isya berjemaah di masjid pada malam itu?

“Syekh Ahmad Asy-Syarbashi berkata: “Tidak ada ibadah khusus pada malam tersebut, minimal mendirikan salat Magrib dan Isya berjemaah di masjid.” (Yas’alunaka fi ad-dini wa al-hayat, juz IV hal. 346). (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help