BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Derita Losani dan Jumiati

Miris sekali. Pendidikan tiga dari enam orang anak pasangan Losani dan Jumiati ini sudah amburadul.

Derita Losani dan Jumiati
BPost Cetak
Ilustrasi 

USAHA pemerintah memerangi anak putus sekolah harus terus digalakkan, kalau perlu ditingkatkan lagi. Khususnya di Banjarmasin, Kalsel, anak putus sekolah itu masih ada. Setidaknya itu terjadi pada keluarga pasangan Losani (43) dan Jumiati (37).

Miris sekali. Pendidikan tiga dari enam orang anak pasangan Losani dan Jumiati ini sudah amburadul. Malah tiga anak mereka, yang saat ini masih bersekolah, juga terancam akan putus di tengah jalan. Alasannya sangat klasik, pasangan pemulung ini tidak punya duit untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Sejatinya, alasan Losani dan Jumiati itu tidak ada lagi. Pasalnya pemerintah sudah punya dua program untuk mengantisipasinya, yakni Program Keluarga Harapan dan Kartu Indonesia Pintar.

Program Keluarga Harapan misalnya, bisa membantu Losani dan Jumiati untuk menyekolahkan anaknya dari SD hingga SMA/sederajat. Karena sasaran pesertanya adalah keluarga miskin, termasuk Losani dan Jumiati.

Program Keluarga Harapan, yang diluncurkan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ini terdiri atas tiga komponen, satu di antaranya komponen pendidikan (SD sederajat, SMP sederajat, SMA sederajat) atau anak usia 7-21 tahun yang belum menyelesaikan pendidikan wajib 12 tahun.

Pemerintah berharap, komponen pendidikan tersebut mampu mengubah perilaku masyarakat (miskin) agar lebih peduli terhadap pendidikan generasi penerusnya, sehingga mampu menghilangkan kesenjangan sosial, ketidakberdayaan dan keterasingan sosial yang selama ini melekat pada diri masyarakat miskin.

Kembali kepada Losani dan Jumiati, instansi atau lembaga yang terkait dengan pelaksanaan Program Keluarga Harapan harus introspeksi mengapa hal itu sampai terjadi.

Tak hanya itu, instansi atau lembaga tersebut juga harus mengambil langkah-langkah nyata, men-sweeping warga miskin hingga ke pelosok-pelosok. Takutnya derita ini tidak hanya dialami Losani-Jumiati saja. Keluarga serupa yang berdomisili di pedesaan pun luput dari bantuan pemerintah.

Data BPS Kalsel, jumlah penduduk miskin di Kalsel mencapai 195.700 ribu sampai Maret 2016. Sementara 1,79 persen dari penduduk usia15 tahun ke atas masih buta huruf. Melihat kondisi itu, kita sangat mendukung Program Keluarga Harapan tersebut terus dilakukan. Namun besar harapan kita, kedepannya pelaksanaan Program Keluarga Harapan itu harus optimal lagi.

Kita senang tahun 2017 ini penerima Program Keluarga Harapan di Banjarmasin mencapai 5.400 hingga 6.400 KK. Tahun 2018 mendatang, Dinas Sosial Kota Banjarmasin menargetkan 9.800 penerima Program Keluarga Harapan. Semoga teralisasi. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help