BanjarmasinPost/

Pancaroba Tiba Waspada Angin Kencang

Beberapa waktu yang lalu Stasiun Klimatologi Banjarbaru melakukan press release prakiraan awal musim kemarau 2017/2018 di Provinsi Kalimantan Selatan

Pancaroba Tiba Waspada Angin Kencang
istimewa
YOSEF LUKY DP SST (PMG Pelaksana Lanjutan Stasiun Klimatologi Banjarbaru)

Oleh: YOSEF LUKY DP SST
PMG Pelaksana Lanjutan Stasiun Klimatologi Banjarbaru

Musim Pancaroba adalah masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau dan juga sebaliknya. Secara umum, pancaroba antara musim hujan dan musim kemarau terjadi pada Maret dan April, sedangkan pancaroba antara musim kemarau dan musim hujan terjadi pada September dan Oktober.

Beberapa waktu yang lalu Stasiun Klimatologi Banjarbaru melakukan press release prakiraan awal musim kemarau 2017/2018 di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Disebutkan, awal musim kemarau paling awal di Kalsel terjadi pertengahan Juni. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini di bulan ini (Mei) wilayah di provinsi ini mengalami masa peralihan atau pancaroba antara musim hujan dan musim kemarau.

Memasuki awal Mei beberapa wilayah di Kalsel masih sering terjadi hujan. Sebernarnya apa yang sedang terjadi? Bukankah seharusnya hujan mulai berkurang dikarenakan akan memasuki musim kemarau? Lalu apa hubungannya keadaan ini dengan musim pancaroba? Indonesia yang merupakan daerah beriklim tropis hanya memiliki dua musim yaitu hujan dan kemarau. Awal musim kemarau ditandai jumlah curah hujan dasarian (sepuluh hari) kurang dari 50 mm diikuti dua dasarian berikutnya.

Saat ini wilayah Kalsel masih sering terjadi hujan. Artinya, keadaan jumlah curah hujan dasarian kurang dari 50 mm diikuti dua dasarian berikutnya (syarat terjadinya awal musim kemarau) belum terpenuhi, sehingga wilayah di provinsi ini bisa dikatakan masih terjadi musim hujan.

Musim Pancaroba

Saat ini matahari berada pada belahan bumi utara, sehingga di belahan bumi utara suhunya tinggi dan tekanannya rendah sebaliknya di belahan bumi selatan suhunya rendah tekanannya tinggi. Artinya, angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah dari selatan menuju ke utara. Seperti kita ketahui angin yang bergerak dari selatan akan membawa udara kering dari Australia sehingga tidak cukup baik untuk menghasilkan awan hujan, dampaknya wilayah Indonesia dan sekitarnya akan kering, keadaan ini bisa menunjukkan bahwa musim kemarau telah terjadi. Namun demikian masih harus dibuktikan dengan pengukuran jumlah curah hujan yang jatuh di permukaan bumi sebagai syarat untuk memastikan apakah musim kemarau telah benar-benar terjadi atau belum.

Seperti kita lihat di wilayah Kalsel pada Mei sekarang masih sering terjadi hujan, padahal seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Hal ini dikarenakan banyak faktor, salah satunya karena masih hangatnya suhu muka laut di sekitar wilayah Kalsel. Perlu diketahui, musim pancaroba justru lebih berbahaya dibanding saat musim hujan maupun musim kemarau, karena atmosfer lebih labil. Masa udara dingin di belahan bumi utara dan masa udara panas di belahan bumi selatan saling memberi tekanan pada pola cuaca di Indonesia. Dampaknya akan lebih banyak tumbuh awan-awan konvektif penghasil hujan lebat, petir maupun hujan es. Selain itu, angin kencang, puting beliung juga akan lebih berpotensi terjadi.

Awan cumulonimbus yang terjadi pada saat musim peralihan merupakan tipe dengan puncak yang menjulang tinggi dikarenakan ada arus yang sangat kuat pada saat proses pembentukannya. Akibatnya, bagian puncak awan menjadi super dingin yang dapat ikut turun sehingga menyebabkan terjadinya hujan es. Beberapa waktu lalu di wilayah Bandung (Jawa Barat) terjadi hujan es. Informasi BMKG setempat sebelum hujan es, ada kenaikan suhu secara signifikan mencapai 5.4° C yang menunjukkan adanya pengumpulan awan yang kuat.

Jika keadaan mendukung kejadian seperti di Bandung sangat berpeluang juga terjadi di Kalsel. Selain hujan es, bahaya petir juga mengintai kita, awan cumulonimbus yang dihasilkan pada saat musim peralihan mengandung kadar air yang sangat tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus akan lebih mudah mengalir. Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya.

Proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi atau sebaliknya untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakan suara.

Musim peralihan juga erat kaitannya dengan angin kencang, kecepatan angin yang terjadi bisa mencapai 40 hingga 60 km per jam. Kondisi ini jauh dari keadaan normalnya yang rata-ratanya hanya 10 km per jam. Kekuatan angin kencang yang terjadi tidak hanya menghancurkan pohon ataupun rumah saja tetapi juga tiang listrik yang terbuat dari beton. Penjelasan diatas memberikan informasi untuk kita bahwa kejadian bencana ternyata tidak hanya pada saat musim hujan atau musim kemarau saja, musim peralihan pun perlu kita waspadai.

Masyarakat harus mewaspadai keadaan ini secara serius, juga harus tahu ciri-ciri bila akan terjadi hujan lebat, petir maupun angin kencang. Salah satu cirinya yaitu satu hari sebelum kejadian pada saat malam hingga pagi hari udara akan terasa sangat panas atau gerah, udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 07.00 hingga pukul 10.00 disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb.

Mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis-lapis), di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu – abu menjulang tinggi seperti bunga kol. Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu menuju hitam yang dikenal dengan awan cb (cumulonimbus).

Lalu, di sekitar kita udara akan terasa dingin dan pepohonan akan bergoyang cepat. Kita juga harus peka dengan keadaan sekitar seperti pohon besar ataupun baliho-baliho yang kelihatan keropos. Jika ada hal tersebut hendaknya kita bisa melaporkan ke pihak yang berwenang sehingga cepat diantisipasi dan tidak menimbulkan korban jiwa. Seperti kata pepatah mencegah lebih baik daripada mengobati. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help