BanjarmasinPost/

Ratapan Guru Sekolah Satu Atap

Beban tidak hanya dirasakan oleh orangtua dan siswa, bahkan guru pengajar di sekolah ini pun memiliki beban yang cukup berat.

Ratapan Guru Sekolah Satu Atap
istimewa
Muhammad Syamsuri MPd, guru SMAN 2 Kintap, Kabupaten Tanah Laut 

Oleh: MUHAMMAD SYAMSURI MPD
Guru SMAN 2 Kintap

Perjuangan siswa sekolah satu atap yang menjadi berita utama Banjarmasin Post edisi Sabtu (13/5/2017), membangkitkan keinginan untuk berbagi pengalaman ketika mengajar di sekolah satu atap.

Berbicara sekolah satu atap, mayoritas orangtua mungkin akan sedikit minder jika menyekolahkan anaknya di sekolah ini. Sekolah yang jauh dari kata bergengsi, bahkan sebagian orang menganggap sekolah ini sebagai sekolah kasta bawah, pinggiran, lengkap dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

Beban tidak hanya dirasakan oleh orangtua dan siswa, bahkan guru pengajar di sekolah ini pun memiliki beban yang cukup berat.

Menurut pedoman pengelolaan SD-SMP satu atap Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Tahun 2005, sekolah satu atap adalah sekolah yang didirikan di daerah terpencil, terisolir dan relatif sulit di jangkau. Lulusan SD di daerah tersebut sebagian besar tidak melanjutkan dan minimal 60 persen yang tidak melanjutkan, serta belum ada SMP baik negeri maupun swasta atau yang sederajat yang dapat terjangkau.

Stigma bahwa sekolah satu atap hanya merupakan sekolah yang didirikan untuk mengatasi angka putus sekolah yang tinggi tanpa bertujuan menjadikan sekolah ini maju, membuat harapan guru sekolah satu atap mendapat perlakuan sama seperti guru lain seolah menjadi sulit digapai. Harapan itu bagi tercukupi dari segi fasilitas, keterjaminan jenjang karier, kesejahteraan dan berprestasi di bidangnya.

Mimpi Indah Berakhir Duka

Paling tidak, terdapat lima hal yang menjadi beban bagi guru sekolah satu atap. Pertama, mengajar 24 jam per minggu. Keadaan sekolah eks satu atap yang mayoritas hanya terdiri atas tiga rombongan belajar menutup kemungkinan guru untuk bisa memenuhi jam mengajar minimal 24 jam per minggu.

Bagi guru sekolah satu atap yang mengajar empat jam per kelas, hanya mampu memenuhi kewajiban mengajar tatap muka sebanyak 12 jam per minggu. Apalagi guru yang mengajar dua jam per kelas, maka dalam seminggu hanya mampu memenuhi tuntutan mengajar tatap muka enam jam per minggu.

Belum lagi jika mata pelajaran yang diampu sama dengan kepala sekolah, mau tidak mau guru harus mengalah dengan memberikan enam jam mata pelajarannya demi sertifikasi sang kepala sekolah. Untuk menyiasatinya terkadang “dikarang” cerita tentang perpustakaan dan laboratorium, tetapi apapun namanya sebuah karangan tetaplah bukan kenyataan.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help