Bursa Saham

Fluktuasi Kurs Menghantui Sejumlah Emiten, Utang Jatuh Tempo jadi Beban Berat

Per kuartal I 2017, total liabilitas bersih BHIT tercatat Rp 5,94 triliun. Sementara, GJTL sebesar Rp 6,14 triliun.

Fluktuasi Kurs Menghantui Sejumlah Emiten, Utang Jatuh Tempo jadi Beban Berat
kontan
IHSG saham 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Moody's Investor Services menyoroti keuangan sejumlah emiten yang memiliki eksposur besar terhadap fluktuasi kurs. Dua diantaranya adalah, PT MNC Investama Tbk (BHIT) dan PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL).

Menurut lembaga rating itu, keduanya masih rentan dengan resiko eksposur fluktuasi kurs. "Karena 70% utang dan beban mereka berdenominasi dollar AS," kata Annalisa Di Chiara, Vice President and Senior Credit Officer Moody's dalam laporan resmi, Selasa (16/5).

Per kuartal I 2017, total liabilitas bersih BHIT tercatat Rp 5,94 triliun. Sementara, GJTL sebesar Rp 6,14 triliun.

Ia menambahkan, sejauh ini, kedua perusahaan memang masih mampu menekan risiko yang muncul akibat eksposur tersebut. Namun, risiko untuk keduanya saat ini membesar seiring dengan utang jatuh tempo berdenominasi dollar AS yang akan jatuh tempo sekitar 12 bulan kedepan.

GJTL misalnya memiliki utang jatuh tempo pada Februari 2018 yang muncul dari penerbitan surat utang US$ 500 juta, dengan bunga 7,75% yang diterbitkan 2013 silam. GJTL tengah mengkaji penerbitan surat utang global dengan emisi yang sama guna melunasi utang jatuh tempo tersebut.

Dengan kondisi GJTL seperti itu, Moody's meragukan kemampuan GJTL untuk melakukan penggalangan dana tersebut. Ini mengapa Moodys menyematkan rating GJTL Caa1 Negative. Moody's juga memberikan rating Caa2 Negative untuk BHIT.

"Risiko kian besar lantaran keduanya memiliki pendapatan dalam kurs rupiah sehingga tidak ada natural hedging yang bisa memitigasi eksposur tersebut," jelas Annalisa.

Editor: Didik Trio
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved