BanjarmasinPost/

Nasionalisme Urang Banua (Refleksi HUT ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan)

Proklamasi ini berbunyi; Merdeka, dengan ini kami rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinya

Nasionalisme Urang Banua (Refleksi HUT ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan)
BPost Cetak
Rahmad Ba'agil 

OLEH: RAHMAD BA’AGIL
Pengajar di FTK UIN Antasari Banjarmasin

HARI ini, 17 Mei 2017 tepat 68 tahun diperingati HUT Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan atau proklamasi kesetiaan Kalimantan Selatan terhadap RI.

Proklamasi ini berbunyi; Merdeka, dengan ini kami rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinya pemerintahan gubernur tentara dari ALRI melingkungi seluruh daerah Kalimantan Selatan menjadi bagian dari Republik Indonesia, untuk memenuhi isi Proklamasi 17 Agustus 1945 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Hal-hal yang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperjuangkan sampai tetesan darah yang penghabisan.

Sebagai warga di Kalimantan Selatan, tentu tidak lupa pula bahwa proklamasi tersebut merupakan sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam tataran lokal, tetapi mempunyai pengaruh untuk sejarah nasional Indonesia.

Mengapa penulis katakan demikian, hal ini tidak terlepas dari proses sejarah akibat dari hasil Perjanjian Linggarjati yang menyebutkan bahwa wilayah kita tidak masuk dalam bagian RI, kecuali Sumatera, Jawa dan Madura. Tetapi nasionalisme urang Banua malah menunjukkan kita menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari RI. Peristiwa ini merupakan sebuah wujud nasionalisme urang Banua yang dipimpin sosok Brigjend H Hassan Basry yang kemudian hari dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 110/TK Tahun 2001, tanggal 3 November 2001.

Kesetiaan Rakyat Kalsel
Pengalaman penulis ketika memberi pertanyaan iseng tentang 17 Mei kepada para generasi muda, jawaban yang terlontar pertama kali adalah langsung dihubungkan dengan nama stadion yang ada di Banjarmasin yang menjadi kandang Barito Putera. Sangat jarang ada yang benar menyebutkan bahwa 17 Mei ini adalah sebuah proklamasi kesetiaan rakyat Kalimantan Selatan terhadap RI yang baru dibentuk oleh pemerintah pusat pada masa itu.

Hal ini menunjukkan bahwa sejarah hebat Banua masih belum diketahui sebagian besar masyarakat kita, utamanya generasi muda.

Berdasarkan hasil sidang PPKI kedua pada 19 Agustus 1945, pada awal pembentukan wilayah Indonesia yang terdiri atas delapan provinsi, kita ketahui bersama Kalimantan dengan Ir Pangeran Mohammad Nor sebagai gubernurnya merupakan satu dari delapan provinsi awal tersebut. Namun berdasarkan hasil Perjanjian Linggarjati, kita “terpaksa” tidak diakui oleh pemerintah pusat sebagai bagian RI.

Hal itu tentu mendapat pertentangan di kalangan masyarakat. Kalimantan Selatan pun bergerak, bentuk perlawanan rakyat Kalimantan Selatan terhadap upaya Belanda untuk menghancurkan persatuan di Indonesia dilakukan dengan cara proklamasi kesetiaan rakyat Kalimantan Selatan terhadap RI. Proklamasi 17 Mei 1949 Divisi IV ALRI adalah sebuah proklamasi yang menyatakan Kalimantan (Selatan) mencintai negara ini (Indonesia) serta menyatakan bahwa Kalimantan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Republik Indonesia. Proklamasi ini merupakan sebuah realita bahwa rakyat Kalimantan Selatan sedikit banyaknya telah berjasa terhadap proses integrasi bangsa dan negara ini.

Banjar dan Semangat Islam
Ketidaktahuan generasi muda akan sejarah lokalnya tentu menjadi perhatian kita bersama. Sejarah lokal mempunyai kekurangan dengan terbatasnya sumber tertulis. Sumber sejarah lokal sebagian besar tersedia melalui sumber lisan, baik itu tradisi lisan (oral tradition) maupun sejarah lisan (oral history). Tetapi hal ini tentu tidak dapat kita jadikan alasan untuk melupakan atau malah tidak mengetahui tentang peristiwa atau sejarah di daerahnya.

Berkaitan dengan peristiwa sejarah Indonesia, ada sebuah fakta yang tidak bisa ditutupi dengan adanya semangat Islam yang mewarnai perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajah. Indonesia negara yang merdeka dengan jerih payah sendiri dan dengan semangat keislaman yang nasionalis mampu mewujudkan kemerdekaan hakiki. Mengutip pernyataan Wajidi Amberi (bubuhanbanjar.wordpress.com) tidak diragukan lagi, agama Islam merupakan kontributor perkembangan nasionalisme di Kalimantan Selatan. Dapat dikatakan Islam dan nasionalisme di Kalimantan Selatan merupakan satu kesatuan erat yang saling mengisi.

Islam sebagai agama yang dianut sebagian besar masyarakat Kalimantan Selatan sangat berperan sebagai pendorong tumbuhnya pergerakan nasional di daerah ini. Oleh karena itu, berbagai aliran atau organisasi-organisasi yang bernafaskan  Islam dapat dengan mudah tumbuh dan berkembang karena banyaknya pengikut atau anggotanya.

Nasionalisme menurut Dimyati Hartono adalah rasa kecintaan terhadap negaranya yang tidak dapat dilepaskan dari rasa patriotisme. Urang Banjar dengan budayanya dan sejarahnya telah membuktikan kebesaran dan kesetiaanya dalam sejarah Indonesia. Kebesaran, yang cenderung tidak tertulis dengan jelas dalam sejarah nasional negara ini, sejarah yang akan selalu tertutupi dikarenakan kurangnya transformasi ilmu terkait peristiwa tersebut.

Bangunan bersejarah terkait proklamasi 17 Mei hanya akan menjadi saksi bisu, betapa besarnya sumbangsih Banua bagi Indonesia. Peran para akademisi, para guru dan orang yang peduli sejarah lokal yang hebat ini, salah satunya adalah proklamasi 17 Mei, tentu bisa memberikan sebuah dorongan kepada para generasi muda untuk bangga kepada sejarahnya, yang diharapkan menambah rasa nasionalisme generasi muda di Kalimantan Selatan karena besarnya peran urang Banua dalam sejarah bangsa.

Dengan sejarah kita belajar jatuh cinta, ucap Kuntowijoyo. Semoga dengan mengenal sejarah daerah kita, membuat kita semakin bangga dan cinta terhadap Banua dan Indonesia tentunya. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help