BanjarmasinPost/

Insight

Ruspiana Nekat Terobos Meratus dengan Pretelan demi Pengabdian

Apalagi dengan harapan bisa mencetak generasi muda yang berprestasi dan andal ke depannya. Banyak penorbanan demi mewujudkan cita-cita tersebut.

Ruspiana Nekat Terobos Meratus dengan Pretelan demi Pengabdian

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Mengabdikan diri sebagai seorang guru, sudah sewajarnya memberikan bekal pendidikan terbaik kepada siswa-siswinya.

Apalagi dengan harapan bisa mencetak generasi muda yang berprestasi dan andal ke depannya. Banyak pengorbanan demi mewujudkan cita-cita tersebut.

Hal itu pula yang tertanam pada sosok guru muda, Ruspiana. Usianya beranjak 20 tahun. Namun Ana, sapaannya, rela mengabdikan diri mengajar di sekolah pedalaman. Tepatnya di SDN Paramasan Bawah 4, Desa Paramasan, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar.

Suka dan duka sudah pasti pernah dilewatinya selama bertugas di desa terpelosok tersebut.

Terutama di saat cuaca hujan mengguyur Desa Paramasan Bawah, jalan yang semula mulus, pun berubah menjadi licin dan becek saat dijalaninya.

Tak ayal, lantaran kondisi tersebut pula membuat pengendara motor kerap berjatuhan bila tidak terbiasa melintasi bagian dari jajaran Pegunungan Meratus itu.

Sementara Ana, dengan modal pengalaman pahitnya lantaran juga pernah ambruk, menyikapi kondisi tersebut dengan menunggangi motor sudah modifikasi alias pretelan.

"Iya itu sudah sering jatuh. Becek sudah biasa. Motor rusak dan mogok karena terkena becek dan air, juga sering menglami. Makanya bila yang lain mengenedarai motor cowok, saya masih menggunakan motor bebek. Tapi, boks depannya harus dilepas supaya tetap bisa meluncur di jalan sangat becek, " ungkap gadis Paramasan ini.

Lebih lanjut, namun yang membuat Rupiana sangat prihatin dengan kondisi di desanya, yakni ketersediaan infrastruktur yang nyaris tidak tersentuh. Padahal hal tersebut sangatlah berperan besar menunjung aktivitas masyarakat baik di dunia pendidikan maupun perekonomian Desa.

"Karena selain kendala jalan yang sangat licin dan becek bila diguyur hujan, siswa, guru dan masyarakat juga dihadapkan dengan jembatan yang bisa dibilang tidak layak pakai atau sudah mau putus. Jadi itu tentu sangat berbahaya, " terangnya.

Sehubung itupula, Ana pun sangat berharap pemerintah agar bisa memberikan perhatian lebih terhadap ketersediaan infrastruktur dan peningkatan sarana pendidikan di desa pelosok.

Meski ia tidak memungkiri, honor yang diterimanya pun sebetulnya selama menjadi guru di pelosok, hanya cukup untuk biaya membeli bensin pulang dan pergi sekolah.

Besar harapannya, perjuangan tersebut ke depan bisa mencerdaskan putra-putri di bagia Meratus itu. Terutama melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

"Karena dengan segi sarana sekolah dan jalan yang baik, tentu ini akan mendorong semangat anak-anak bersekolah dan bahkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang selanjutnya, " ungkap mahasiswi semester empat jurusan STKIP PGRI Banjarmasin ini. (gha)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help