BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Bukan Serangan Orang Iseng

Presiden kemudian menyebut lima kelompok bisnis yang kebakaran jenggot, setelah kebijakan frontal Jokowi menyumbat rezeki berlimpah mereka.

Bukan Serangan Orang Iseng
BPost Cetak
Ilustrasi 

SETELAH gaduh yang mendompleng Pilkada Jakarta agak mereda, Presiden Joko Widodo angkat bicara perihal situasi tersebut, Rabu (17/5). Di hadapan para pemimpin media massa, dia menyebut situasi ini erat dengan ‘perebutan’ kekuasaan politik dan para pebisnis yang terusik.

Presiden kemudian menyebut lima kelompok bisnis yang kebakaran jenggot, setelah kebijakan frontal Jokowi menyumbat rezeki berlimpah mereka. Mereka pun disinyalir sebagai pihak yang melakukan serangan balik.

Lima bidang itu adalah, para pebisnis yang terganggu garangnya Menteri Susi Pudjiastuti memerangi illegal fishing. Berikutnya, mereka yang tak lagi mendapat berkah impor bahan bakar minyak (BBM) setelah Petral dibubarkan.

Tiga kelompok lainnya, para penikmat daging impor yang tak lagi berlemak setelah sejumlah kebijakan digelontorkan Jokowi. Berikutnya, para pendulang keuntungan berlipat yang memainkan harga kebutuhan pokok pada masa-masa tertentu, alias para mafia pangan. Juga, pengambil keuntungan di pelabuhan yang tak lagi bisa leha-leha, karena proses bongkar muat dipercepat.

Tentu, presiden tidak membeber bukti-bukti keterlibatan mereka di hadapan para peserta pertemuan. Juga, tidak menyebut lembaga/korporasi apalagi nama orang yang menyulut situasi panas itu. Dia hanya meminta, warga bangsa tidak gampang terprovokasi sambil mengingatkan, bahwa mereka yang terpotong rezekinya itu sedang melancarkan serangan balik.

Benarkah demikian? Tentu perlu dibuktikan, meski sangatlah sulit. Sambil menunggu bukti (yang bisa jadi tidak pernah ada) kita hanya bisa merasakan, lalu membenarkan atau tidak membenarkan (pernyataan Jokowi itu) berdasarakan subjektivitas masing-masing.

Bagi yang melihat situasi tujuh bulan belakangan dari sebab langsung, tentu menolak secara keras bahwa situasi ini akibat ‘serangan balik’ para pebisnis yang terpotong rezekinya. Kita akan bersikukuh, ‘konflik’ ini adalah keniscayaan karena masing-masing pihak harus memperjuangkan keyakinan dan pilihan. Dan bukan karena sedang diprovokasi siapapun, termasuk pihak-pihak yang disebutkan Jokowi.

Bagi yang melihat situasi panas dari sebab tak langsung (sebab dari sebab dan sebab dari sebabnya sebab dan seterunya), sinyalemen Jokowi bisalah benar. Bukankah tidak ada satu pun peristiwa politik yang berdiri sendiri karena sebab tunggal.

Bila benar bahwa ‘konflik’ yang telah (dan mungkin akan terus) berlangsung ini karena ideologi, tentu ada pernyataan lanjutan. Siapa pihak yang ‘menyodorkan ideologi’ untuk kita pertahankan? Siapa pihak pengarah pada ‘ideologi pilihan’? Siapa pembuat momentum sehingga kita merasa perlu berkonflik? Dan banyak lagi pertanyaan turunan.

Tentu kita menampik bila jawabannya adalah: Orang iseng! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help