BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Gonjang-ganjing Negeri Kita

Negara ini terlilit utang mencapai Rp 2.100 triliun. Cadangan devisa negara merosot dari 123 miliar dolar AS menjadi 90 miliar (Suara Islam, Edisi 177

Gonjang-ganjing Negeri Kita
dok BPost
KH Husin Naparin

Oleh: KH Husin Naparin
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

Lewat Aliansi Muslim Banua, baru-baru ini penulis menerima WA berisikan ucapan seorang Presiden Indonesia, BJ Habibie, “Setinggi apapun cita-citamu, semulia apapun tujuanmu, tempuhlah dengan cara terhormat dan kesatria. Jangan bohong, fitnah dan menghalalkan segala cara. Ingat, bangsa ini merdeka bukan hasil perjuangan para pecundang dan penipu.”

Apa yang terjadi di negeri dan Negara Indonesia dewasa ini? Gonjang-ganjing di negeri kita. Betapa tidak, negeri yang indah permai ini, segala macam kekayaan alam sebagai fasilitas kehidupan tersedia.

Syeikh Al-Azhar, Kairo, Mesir, Mahmud Syaltut dalam kunjungan ke Indoneisa pada 1960-an mengatakan, Indonesia qith’atun minal-jannah wudhi’at ala wajhil-ardhi, artinya, “Indonesia adalah sepotong surga yang diletakkan di atas permukaan bumi;” tetapi, mengapa negeri dan negara ini terseok-seok.

Negara ini terlilit utang mencapai Rp 2.100 triliun. Cadangan devisa negara merosot dari 123 miliar dolar AS menjadi 90 miliar (Suara Islam, Edisi 177). Negara ini terancam disintegrasi. Apa yang kurang? Tidak ada yang kurang; SDA dan SDM melimpah ruah, yang kurang hanya satu, yaitu “berkah,” kalau pun tidak dikatakan hilang.

Ibnu Mubarak mensinyalir: “Rusaknya masyarakat dan umat muncul lewat orang-orang terhormat. Mereka itu ialah ulama dan cerdik cendekia; pasukan bersenjata dan alat negara, para ahli ibadah, pedagang dan pemegang kendali ekonomi, serta para petugas, pekerja, karyawan dan buruh.

Ulama dan cerdik cendekia adalah pewaris para nabi; tetapi bila mereka mempermainkan agama dan tergiur harta, kepada siapakah masyarakat mencari panutan. Pasukan bersenjata dan alat negara adalah tentara Tuhan di muka bumi; bila mereka tergiur harta dan mabuk sanjungan, bagaimana bisa mengalahkan musuh. Para ahli ibadah adalah bentengnya penghuni bumi; bila mereka silau dunia, kepada siapakah orang bersalah mencari ikutan. Pedagang dan pemegang kendali ekonomi adalah bendahara Tuhan di atas bumi; bila mereka khianat, bagaimana kejujuran bisa didapat. Para petugas, pekerja, karyawan dan buruh adalah pagar umat; bila pagar menjadi serigala bagaimana pengawalan bisa didapat.” (At-Tafsir Al-Kabir, juz II, hal 182.)

Lebih jauh Imam Al-Fakhrurrazi dalam tafsirnya mengutip sebuah atsar sahabi:

“Dunia adalah kebun yang dihiasi dengan lima tanaman, yaitu: ilmunya para ulama dan cerdik cendekia, keadilan para pejabat dan penguasa, doa dan ibadahnya ahli ibadah, amanahnya para pedagang dan pemegang kendali ekonomi, dan disiplin dan dedikasinya para pekerja, petugas dan karyawan. Iblis datang membawa lima bendera, yaitu bendera dengki ditancapkan di kalangan para ulama/cerdik cendekia; bendera zalim di kalangan pejabat/penguasa; bendera ria di kalangan ahli ibadah; bendera khianat di kalangan para ahli/pemegang ekonomi, dan bendera curang di kalangan para petugas.”

Seorang ulama Banua, KH Drs Muhammad Qasthallani LML (alm), dalam khotbah berkata, “Bangsa dan negara ini memerlukan, pertama, Ilmunya para cerdik-cendikia dan petuah para ulama yang membawa umat kepada kebaikan dan kebenaran, bukan ilmu dan petuah yang justru menyesatkan;

Kedua, Keadilan para pemimpin dan penguasa, bukan para pemimpin dan penguasa yang hanya mengambil kesempatan, yang justru menambah penderitaan rakyat; bahkan menjadi backing kemaksiatan;

Ketiga, Doa dan ibadahnya para pengabdi, bukan doa dan ibadah yang diliput oleh kepura-puraan dan dililit oleh ketidakseriusan;

Keempat, Kejujuran para pengusaha dalam berusaha, bukan pengusaha yang rakus dan tamak, loba dan serakah, yang hanya mengambil keuntungan dan kepentingan pribadi yang pandai memanfaatkan kesempatan di kala bangsa dalam kesempitan;

Kelima, Kedisiplinan para petugas, pegawai, karyawan dan pekerja, yang setia pada janji dalam memikul tugas dan tanggung-jawab bukan petugas dan pekerja yang setengah hati dan suka menjilat.” (Khotbah Idul Fitri 1418 H di Masjid Jami, Banjarmasin). (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help