BanjarmasinPost/

Puasa Ramadan

Wakil Rektor UIN Antasari Sukarni: Puasa Itu Amunisi Bagi Kehidupan

Menjalankan ibadah puasa semestinya membuat seseorang lebih produktif, karena ibadah yang menyadarkan akan tugas sebagai hamba Allah.

Wakil Rektor UIN Antasari Sukarni: Puasa Itu Amunisi Bagi Kehidupan

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menjalankan ibadah puasa semestinya membuat seseorang lebih produktif, karena ibadah yang menyadarkan akan tugas sebagai hamba Allah. Dengan berpuasa sudah seharusnya lebih bersemangat untuk mengabdi, sebut Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, H Sukarni.

Menurut dia, puasa itu sebenarnya merupakan amunisi atau bahan bakar minyak (BBM) dalam kehidupan. Makin bagus ibadahnya makin bersemangat hidupnya dan makin mudah terdorong untuk mencapai suatu tujuan

Puasa itu menyambung hati dengan Allah, karena itu beribadah. Sama dengan salat, kalau khusyuk menjalaninya akan merasa dekat, sehingga berpuasa mendorong diri untuk meningkatkan penyadaran status diri sebagai pengabdi.

Memahami makna atau hakikat puasa, tentu menjalaninya akan semakin bergairah dan semangat untuk bekerja mengharapkan rahmat dari-Nya. Suatu pekerjaan yang dilakukan dalam suasana ibadah puasa, tentu pahalanya lebih besar dibanding saat tidak berpuasa. Sama saat membaca ayat Alquran pada waktu salat, tentu pahalanya lebih besar.

Puasa itu amunisi dalam kehidupan. Buktinya, kemerdekaan Republik Indonesia dapat diraih pada bulan Ramadan. Pasti waktu itu semangat dan geloranya untuk mengusir penjajah melebihi di luar Ramadan, memperjuangkan negara dianggap sebagai suatu ibadah juga sehingga lebih bersemangat.

Sama ketika perang Badar yang terjadi di bulan Ramadan. Perang yang sangat melelahkan, meski jumlahnya lebih sedikit dibanding musuh, namun semangat yang luar biasa dan mengharapkan ridha Allah SWT, akhirnya mampu meraih kemenangan, meski dalam kondisi lapar dan haus.

Kalau ada sebagian masyarakat menganggap puasa sebagai halangan dalam beraktivitas, itu karena ia melihat puasa sebagai beban, sehingga berat sekali menjalankan bahkan dianggap sebagai penghalang.

Kalau ditanya apa benar puasa itu menghalangi atau menurunkan produktivitas? Bagi orang yang memahami hakikat puasa sebagai suatu ibadah, tentu akan merasakan sebaliknya. Puasa menjadi semangat dan menambah spirit dalam rangka mencapai tujuan.

Makanya puasa itu harus dipahami, semua ibadah itu harus dipahami. Bukan sekadar memenuhi kewajiban, tapi betul-betul sebagai sarana atau alat untuk mencapai tujuan, tandas dosen pasca sarjana di UIN Antasari itu.

Hanya saja, lanjut Sukarni, masyarakat beragama lebih kepada fikih oriented yaitu selalu berpikir tentang wajib, haram, sunah, mubah dan makruh. Misalnya, orang menjalankan ibadah puasa karena suatu kewajiban. Kalau spiritual oriented, melihat ibadah yang diajarkan oleh agama itu sebagai sebuah kebutuhan hidup untuk memenuhi kehausan spiritualnya.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help