Cerpen Banjarmasin Post

Tekukur Kakek

Menempati sangkar berdiameter empat puluh lima centimeter, burung itu hanya bisa melipat sayapnya rapat-rapat, memanaskan suhu tubuh sembari mengamati

Tekukur Kakek

Oleh: ARRUM LESTARI

AKU terkenang sebuah kisah tentang burung tekukur di rumah kakek. Menempati sangkar berdiameter empat puluh lima centimeter, burung itu hanya bisa melipat sayapnya rapat-rapat, memanaskan suhu tubuh sembari mengamati cicak yang menempel di tembok sedang menjilati bibirnya setelah melahap laba-laba kecil.

Tekukur itu bisa seharian berdiam mendekam di atas patahan ranting yang diselipkan di sela-sela jeruji sangkar. Bahkan ketika suara gaduh dari gesekan bunyi martil, kikir, pasah dan lain-lain. Di bengkel kuningan milik kakek, burung itu sama sekali tak bereaksi, seperti tidak terjadi apa-apa.

Setiap sore selepas kerja, kakek mengisahkan burung tekukur yang menurutnya melambangkan kerendahan hati itu kepada cucu-cucunya. Berawal dari pemberian seseorang, burung itu bisa melewati empat tahun dalam sepi di sebuah sangkar bambu. Kakek memelihara si tekukur sejak burung itu berukuran sebesar telur bebek.

Suatu sore kedua cucu kakek sudah bersila di dipan kayu yang melengkapi beranda rumah. Sambil menghidangkan sepiring pisang goreng kakek mulai berkisah. Ia menuturkan bahwa burung itu pernah tinggal di sebuah istana bersama induknya sebelum menetap di sini. Induknya temperamen. Suka melempar nampan, tempat air, dan perabot lain di istana. Setiap hari istana jadi suram, berantakan oleh berbagai perabot yang berserak tidak pada tempatnya.

Burung tekukur kecil itulah yang merapikan segalanya dengan susah payah. Jalannya belum sempurna, paruh dan sayapnya masih mungil, membuat ia kelelahan tiap selesai membereskan istana megah itu. Burung tekukur kecil bekeluh-kesah kepada pengawal istana: ia ingin ada seseorang yang membawa pergi dari istana. Ia ingin terbang bebas mencari makan seperti burung-burung lain yang bergembira hidup di rumah pohon.

“Kenapa burung tekukur itu tidak minta pertolongan kepada ayahnya, Kek?” tanya salah satu cucunya.

“Burung tekukur sejak kecil belum pernah melihat ayahnya.”

“Burung itu yatim?”

“Hmmm. Mungkin begitu.”

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved