Pemberontakan di Filipina Selatan

NEWS ANALYSIS, Khairul Fahmi: Pintu Masuk ISIS di Asia Tenggara

Sejak mencuatnya perseteruan antara pasukan pemerintah dan militan di Marawi, bendera hitam khas ISIS berkibar di hampir seluruh penjuru kota.

NEWS ANALYSIS, Khairul Fahmi: Pintu Masuk ISIS di Asia Tenggara
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Kamis (1/6/2017) 

Oleh: Pengamat dari Institute for Security and Strategic Studies Khairul Fahmi

BANJARMASINPOST.CO.ID - Perlawanan sengit kelompok militan yang berafiliasi dengan ISIS, Maute, terhadap militer Filipina di Marawi, Mindanao, sejak Selasa pekan lalu sebagai peringatan tak hanya bagi negara pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte tapi juga bagi sejumlah negara lain di kawasan.

Sebab, bentrokan yang kini masih terjadi di kota berpenduduk mayoritas Muslim dengan populasi 200 ribu orang itu, dianggap bisa memperkuat kehadiran kelompok militan di sana.

Bahkan, insiden yang telah memakan korban sebanyak 103 orang itu bisa jadi pintu masuk kehadiran ISIS di Filipina, bahkan di kawasan Asia Tenggara. Itu pintu masuk yang sangat menarik bagi ISIS. Jadi, militan-militan yang ada di kawasan dan negara lain tertarik masuk ke selatan Filipina untuk bergabung dengan kelompok teroris di wilayah itu.

Sejak mencuatnya perseteruan antara pasukan pemerintah dan militan di Marawi, bendera hitam khas ISIS berkibar di hampir seluruh penjuru kota. Meski kelompok pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi itu belum mendeklarasikan Marawi sebagai wilayah kekhalifahannya seperti yang mereka lakukan di Libya dan Arab Saudi, banyak pengamat meyakini hal itu hanya soal waktu.

Selain itu, kondisi kehadiran ISIS yang kian tertekan di Timur Tengah seiring gempuran koalisi internasional di Suriah dan Irak, menjadikan kelompok itu semakin menganggap penting jejaring mereka di kawasan lain. Mereka butuh memantapkan eksistensi ISIS di kawasan lain.

Pengaruh ISIS kian meluas ke seluruh penjuru Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Lebih dari 60 kelompok militan telah mendeklarasikan diri mereka berbaiat kepada ISIS.

Namun, itu masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa insiden ini merupakan tanda kehadiran ISIS yang semakin jelas di Filipina atau pun di Asia Tenggara.

Keberadaan ISIS, bukan hanya soal pengaruh dan maraknya simpatisan kelompok itu yang bermunculan. Kehadiran ISIS di kawasan itu juga perlu dilihat dari ada tidaknya koordinasi dan komunikasi hingga transfer logistik, finansial, serta pengetahuan dari kelompok Baghdadi di Timur Tengah dengan jejaringnya di Asia Tenggara.

Beberapa hal itu belum terlihat dilakukan ISIS pada simpatisan-simpatisannya di Asia Tenggara. Sejauh ini dukungan ISIS seperti pengerahan logistik, sumber daya manusia, dan pengetahuan terhadap kelompok militan di Asia Tenggara, terlebih di Filipina belum terlihat menonjol.

“Jadi gerakan militan di FIlipina ini baru sebuah ISIS wanna be. Belum ada pengakuan resmi dari kelompok itu bahwa mereka membantu dan bekerja sama dengan militan-militan.

Yang jelas, ini harus lebih diwaspadai baik oleh Filipina maupun negara tetangga, termasuk Indonesia.Sebab, kepungan militer di Marawi bisa membuat para militan ‘mengungsi’ ke luar wilayah dan menyasar ke negara tetangga.

“Tidak seluruh militan Maute ditangkap militer. Indonesia dan Malaysia menjadi daerah paling rawan sebagai tempat pelarian para militan dari Marawi. Kawasan Filipina selatan sudah lama menjadi kawasan rawan bagi tiga negara Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Sekarang, yang perlu dipersiapkan adalah bagaimana Indonesia dan Malaysia mengantisipasi kemungkinan buruk itu. (cnni)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved