Ekonomi dan Bisnis

Pemerintah Tak Bisa Mengatur Laju Harga Jengkol, Menteri Perdagangan: "Makan Pete Saja"

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita pun ikut angkat bicara terkait kenaikan harga Jengkol yang terjadi saat ini.

Pemerintah Tak Bisa Mengatur Laju Harga Jengkol, Menteri Perdagangan:
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Jengkol atau jaring di Kalsel disajikan sebagai camilan dengan campuran tahi lala. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Kenaikan harga Jengkol di beberapa pasar tradisional menjadi perhatian, harga panganan yang memiliki aroma khas tersebut tiba-tiba melonjak hampir mencapai Rp 100.000 per kilogram.

Sayangnya pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian pun tak bisa melakukan intervensi terhadap kenaikan dan kelangkaan Jengkol yang terjadi saat ini.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita pun ikut angkat bicara terkait kenaikan harga Jengkol yang terjadi saat ini.

"Jengkol apa urusannya, jangan makan Jengkol nanti (sakit) kejengkolan kalau kata orang Sunda, Jengkol tidak memberikan inflasi, jangan makan Jengkol makan pete saja," ujar Mendag Enggartiasto di Kementerian Perdagangan, Rabu (31/5/2017).

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Prihasto Setyanto mengatakan, Jengkol merupakan komoditas yang tidak diatur oleh pemerintah.

"Jengkol memang tidak termasuk yang diatur oleh pemerintah," ujarnya saat dihubungi Kompas.com.

Direktur Perbenihan Hortikultura Kementan Sukarman mengatakan, tanaman Jengkol saat ini tidak sedang memasuki masa panen atau berbuah.

"Memang tidak lagi musim Jengkol, jadinya berpengaruh ke harga. Itu setahun sekali panennya. Sekarang lagi tidak ada, panen lagi nanti kalau bulan Oktober atau November atau Desember, sama seperti duren, pete, dan lainnya," pungkasnya.

Sebelumnya, Suhartini, salah satu pedagang sayur di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, mengatakan memang dalam beberapa hari terakhir harga Jengkol tengah alami kenaikan dan pasokan sulit dicari oleh pedagang.

Penyebabnya adalah kelangkaan pasokan Jengkol dari petani kepada para pedagang di berbagai pasar tradisional.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved