Berkah Ramadan

Tausiyah: Takwa

Kata dan anjuran bertakwa sering terdengar. Setiap khatib berkhotbah Jumat anjuran ini selalu disampaikan oleh para khatib.

Tausiyah: Takwa

Oleh: H Mahfudz Shiddieq MA

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kata dan anjuran bertakwa sering terdengar. Setiap khatib berkhotbah Jumat anjuran ini selalu disampaikan oleh para khatib. "Hai orang-orang beriman, takwalah kepada Allah dengan benar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim (Ali Imran/3:102).”

Kata takwa sering diberi arti dengan takut. Kata takwa dari wiqayah bermakna waspada dan hati-hati serta memelihara diri kejahatan dan kemaksiatan (fahsya dan Munkar). Bila terjemahan takut yang disepakati, maka ia tidak boleh diberi makna takut mendekati Allah, tetapi justru seorang muslim berani dan bersemangat mendekati Allah disertai dengan takut melanggar perintah-Nya, takut mendekati larangan-Nya, dan takut siksa-Nya.

"Takwalah engkau kepada Allah di segala tempat, dan ikutilah perbuatanmu yang jelek dengan perbuatan yang baik untuk menghapus perbuatan yang jelek itu; pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik (HR al-Tirmidzi dari Abi Dzar Jundub ibn Junadah dan Abi Abdirrahman Mu'adz Ibn Jabal).”

Setiap orang beriman diperintahkan agar senantiasa bertakwa di setiap tempat, pada setiap waktu dan keadaan ketika menjabat atau bekerja pada setiap lapangan pekerjaan. Jadi ketakwaan itu bersifat permanen dan sembarang (tempat, posisi). Dalam keadaan diri berada pada kejelekan (sayyi'ah) maka perbuatan bijak dan baik serta akhlak gaul yang terpuji dapat mengkanter dan mendekat perbuatan jahat.

Ketika menyebut takwa, Rasul menunjuk dada beliau, karena hati terletak di dalam dada. Karena di sini terbentuk khauf dan tempat bersemayam takwa, taqwalqulub. Hati menjadi tempat bersarang berbagai kondisi. Tempat ini menjadi wadah bersarang berbagai penyakit batin seperti hasad , tipu daya, kebencian, kesewenangan, perpecahanan aniaya, menghina dan merendahkan orang lain. Dengan takwa yang bertempat di sini pula penyakit-penyakit itu dapat dilawan dan diusir .

“Orang Islam adalah saudara orang Islam, maka janganlah saling menganiaya, saling menghina, saling berbohong dan saling merendahkan. Takwa itu di sini (Rasul SAW menunjuk ke dada sampai tiga kali). Cukuplah keburukannya jika ia merendahkan saudaranya muslim, setiap orang Islam terhadap orang Islam lainnya haram darah, harta dan kehormatannya (HR Muslim dari Abi Hurairah ra).”

"Hai orang-orang beriman, jika kalian beriman kepada Allah, maka dia akan memberikan pembeda (kemampuan membedakan) antara yang hak dan batil, menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu; dan Allah mempunyai karunia yang besar (Al Anfal/8:29).”

Kata Takwa (perintah takwa) sering dihubungkan dengan konteks tertentu, seperti dengan masa depan, azab dan ketaatan.

Konteks dengan masa depan misalnya, firman Allah dalam Al Hasyr /59:18, "Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri (orang) memperhatikan hal-hal yang telah ia kerjakan untuk hari esok (masa depan, akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui segala perbuatan atau amal kalian. Dan pelihara lah dirimu (takwa) dari azab yang kelak ditimpakan pada saatnya ketika kalian dikembalikan kepada Allah; kemudian setiap diri diberi balasan yang sempurna sesuai dengan amalnya dan sedikitpun mereka tidak dianiaya atau dirugikan (al-Baqarah/2:281).”

Kehidupan di bumi ke depan agaknya terus menjadi peningkatan problematika dan cenderung lebih kompleks. Kepada orang yang bertakwa Allah menjanjikan ".. dan orang yang bertakwa kepada Allah dijanjikan akan memperoleh jalan ke luar dari kesulitan dan permasalahan (al-Thalaq/65:2). Ibadah puasa yang dilakukan dengan ikhlas meneguhkan identitas ketakwaan. Wallahu a'lam. (kur/*)

Baca di Metro Banjar Edisi Jumat (2/6/2917)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved