Cerpen Banjarmasin Post

Di Luar Masih Gerimis

Adong membuka kulkas cepat-cepat. Masih ada sepotong wortel yang belum dikupas. Masih ada seledri, daun bawang, cabai, buncis, tomat, mentimun.

Di Luar Masih Gerimis
Halaman 9 Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Minggu (11/6/2017) 

Oleh: Jeli Manalu

DI dalam freezer masih ada dua ekor udang besar, sisa dari udang-udang yang diantar si tukang ikan keliling minggu lalu. Mengenai udang ini, sebenarnya, agak malas ia memikirkannya. Udang harus terlebih dahulu direndam supaya esnya mencair. Bila tak hati-hati saat menguliti, jari-jarinya bisa koyak.

Namun jika tak diolah sekarang, udang itu sudah pasti menjadi fosil yang terus-menerus melukainya, sebab tadi sehabis bangun, perasaannya menyebutkan ada yang ingin datang sebentar lagi—meski tidak bisa dikatakan berharap, tapi ia teringat pada wanita yang masih ia sayang. Lidia.

Dengan wanita itu, ketika mereka masih pengantin baru, pernah ia buat kejutan. Lidia nangis senang melihat dua ekor udang yang disusun hadap-hadapan seolah mereka lagi pelukan. Lidia bilang, ia baru saja mimpi tentang nasi goreng yang dibuatkan seorang suami untuk ratunya (istrinya). Jadi saking bahagia karena mimpinya jadi nyata, ia berkata:

“Jika suatu saat kau merasa rindu atau kau berpikir aku merindukanmu, maka, tolong buatkan ini lagi”.

Sekarang, Adong membuka kulkas cepat-cepat. Masih ada sepotong wortel yang belum dikupas. Masih ada seledri, daun bawang, cabai, buncis, tomat, mentimun.

Saat Adong mengupas bawang, matanya pedih. Ia menjauh-jauhkan leher dan menutup kedua mata waktu mencacah. Tapi tetap saja matanya kepedasan. Semakin ia rapatkan kelopak matanya, semakin menangis mata itu. Mengiris bawang ternyata menyakitkan, pikirnya.

Dulu, ketika baru menikah dan belum direpotkan oleh anak-anak, ia dengan sukarela mau saja membuatkan sarapan pagi. Lidia membantunya mengolah bumbu. Ia tinggal memecah nasi, menumis, lalu menyajikannya ke piring cantik ‘mama-papa’ yang juga sudah dicuci bersih istrinya itu. Namun ke sini-sini, setelah istrinya itu disibukkan dengan mengurus bayi, ia pun disibukkan urusan sendiri.

Sebelum masuk ke menu utama, yakni nasi goreng, ia ambil terlebih dulu dua butir telur. Ia pecahkan satu. Ia masukkan garam lalu mengocoknya cepat, lalu tiba-tiba pelan sekali karena lelehan telur menghambur ke kerah bajunya. Ia menggerak-gerakkan hidung, merasa tak suka aroma amisnya. Segera ia masukkan kocokan telur ke wajan yang sudah panas bahkan sedikit berasap. Telur dadar sudah jadi. Itu untuk Lidia biasanya. Selanjutnya ia akan membuat telur mata sapi kegemarannya.

Kembali ia tuang minyak ke wajan. Ia kecilkan api kompor. Ia keliling-kelilingkan telapak tangan, mengukur apakah wajan sudah siap dimasuki sebiji telur. Ia, agaknya tahu, kalau membuat telur mata sapi dengan tingkat kematangan dan bentuk nyaris sempurna, tidak semudah menuang cairan telur dadar. Tidak semudah membandingkan masakan istrinya dengan masakan di rumah makan, lalu istrinya itu berjam-jam latihan membuat telur mata sapi agar senyum berangkat kerja. Membuat telur mata sapi, pertama-tama, ia harus memukul kulit telur dengan penuh penghayatan. Bukan seperti memukul meja karena kesal.
Tetapi, ia tak berhasil membuat mata sapi yang melotot.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved