Berkah Ramadan

Tausiyah: Penyesalan

Sekalipun seseorang sudah berusaha, sebagaimana dalam permainan sepak bola atau kompetisi pilkada, tidak jaminan target kemenangan tercapai.

Tausiyah: Penyesalan
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Selasa (13/6/2017)

Oleh: Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof Dr KomaruddinHidayat

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Mengapa terjadi penyesalan dan kekecewaan? Karena tidak semua harapan, keinginan dan cita-cita tercapai. Padahal, keinginan seseorang tak pernah mati, bahkan tumbuh setiap hari. Makanya, semakin banyak dan semakin besar keinginan, semakin besar potensi untuk kecewa dan menyesal dalam hidup seseorang, mengingat tidak semua keinginan terwujud.

Meski tidak persis, hidup memang ada unsur gambling. Untung-untungan. Adu nasib. Sekalipun seseorang sudah berusaha, sebagaimana dalam permainan sepak bola atau kompetisi pilkada, tidak jaminan target kemenangan tercapai.

Rumus matematika itu tidak bisa diterapkan dalam kaidah kehidupan. Di sana banyak blind spot. Kekecewaan dan penyesalan jika dikelola secara baik, secara rasional, dan emosional, akan menggumpal menjadi kekuatan dahsyat yang memotivasi seseorang untuk membuat loncatan hidup (quantum leap).

Kekecewaan itu deposito mental sebagai pijakan meraih sukses di masa depan. Berbagai cerita sukses orang besar pasti hidupnya pernah mengalami kekecewaan yang amat dalam.

Di antara mereka ada yang pernah tidak naik kelas karena dianggap idiot dan bodoh oleh gurunya. Padahal, gurunya saja yang salah, tidak mampu melihat dan menggali bakat luar biasa yang terpendam.

Ketika bakat itu tersalur, dia tumbuh menjadi orang besar karena prestasinya di atas rata-rata. Makanya muncul ungkapan klasik, kegagalan itu sukses yang tertunda.

Kegagalan dan kekecewaan itu amunisi untuk membuat loncatan jauh ke depan. Kita boleh dan wajar menyesal ketika kalah dalam sebuah kompetisi akbar, tetapi jangan memenjarakan tekad untuk bangkit dan maju.

Kalau kita membaca ulang perjalanan hidup yang pernah kita lewati, potret dan pelajaran yang sangat menarik adalah sewaktu kecil belajar berdiri dan berjalan. Kita semua pernah mengalaminya, namun kita lupa.

Kita bisa melihat potret diri lewat anak-anak yang masih kecil. Coba amati, berapa kali anak kecil terjatuh ketika belajar berjalan dan berlari.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved