BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Kemarahan Alam di Kintaplama

Bukan bermaksud untuk mendramatisasi. Yang terjadi di Desa Kintaplama itu bisa jadi suatu pertanda dari alam bahwa alam sudah marah.

Kemarahan Alam di Kintaplama
BPost Cetak
new-Tajuk-harian 

APA yang terjadi di bantaran Sungai Kintap, tepatnya di Desa Kintaplama, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan, Minggu (18/6), harus disikapi serius oleh gubernur, bupati atau wali kota, dan para penambang batu bara.

Bukan bermaksud untuk mendramatisasi. Yang terjadi di Desa Kintaplama itu bisa jadi suatu pertanda dari alam bahwa alam sudah marah. Marah terhadap ulah sekelompok manusia yang dengan seenak perutnya merusak alam untuk mendapatkan batu bara, tanpa memedulikan reklamasi. Usai menambang, selamat tinggal.

Padahal danau buatan yang tercipta pascapenambangan bisa menjadi bom waktu. Bom waktu itu bisa meledak kapan saja. Bisa lima tahun pascapenambangan, bisa 10 tahun, bisa 20 tahun. Jebolnya danau buatan eks tambang batu bara di Desa Kintaplama adalah satu contohnya.

Memang musibah itu tidak menelan korban jiwa. Tapi bukan berarti kita meremehkannya. Bisa jadi itu hanya contoh kecil dari kemarahan alam. Data sementara yang didapat, bencana itu hanya menimbulkan kepanikan warga yang berada di sekitar danau buatan. Pasalnya tempat tinggal mereka tiba-tiba digenangi air. Ada sekitar 17 kepala keluarga atau 67 jiwa yang terdampak. Sebagian dari mereka sudah diungsikan ke tempat yang aman.

Tanpa mengabaikan dampak positif dari tambang batu bara seperti bermunculannya orang-orang kaya baru dan meningkatnya pembangunan, pengerukan batu bara itu juga menimbulkan dampak kerusakan lingkungan hidup yang cukup besar, baik itu air, tanah, udara, hutan dan masyarakat sekitar.

Terhadap tanah misalnya, penambangan batu bara dapat merusak vegetasi yang ada, menghancurkan profil tanah genetic, menggantikan profil tanah genetic, menghancurkan satwa liar dan habitatnya, degradasi kualitas udara, mengubah pemanfaatan lahan dan hingga pada batas tertentu dapat mengubah topografi umum daerah penambangan secara permanen.

Mengerikannya, dalam jangka panjang masyarakat yang akan merasakannya. Air yang tercemar batu bara apabila dipakai untuk aktivitas sehari-hari, seperti mandi, cuci dan kakus, bisa menimbukan penyakit kulit dan kanker kulit. Debu batu bara yang terhirup bisa menimbulkan penyakit infeksi saluran pernapasan dan kanker paru-paru.

Kembali ke masalah di Desa Kintaplama, mulai sekarang gubernur dan bupati atau wali kota harus memeriksa danau buatan akibat dari penambangan batu bara. Aman atau tidak bagi warga sekitar, bila tidak aman pindah mereka ke tempat yang aman.

Kemudian, gubernur dan bupati atau wali kota harus memeriksa sejauh mana para penambang melaksanakan. Bila ada penambang yang melanggar, beri sanksi atau paksa mereka agar mau melaksanakan reklamasi.

Kedua langkah itu hanya sebagian kecil dari upaya untuk mencegah atau menghindari terjadinya kerugian yang ditimbulkan akibat kerusakan lingkungan pacsapenambangan batu bara. Selamatkan alam dari kerusakan dan kehancuran. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help