Kriminalitas Hulu Sungai Tengah

Satnarkoba Sita Obat Daftar G Senilai Rp 150 Juta, Pelakunya Remaja Hingga Lansia

Adapun jumlah tersangka, sebanyak delapan orang, dan saat ini masih menjalani proses hukum.

Satnarkoba Sita Obat Daftar G Senilai Rp 150 Juta, Pelakunya Remaja Hingga Lansia
Banjarmasinpost.co.id/Hanani
Kapolres HST AKBP Mugi Sekar Jaya, didampingi Kasatres Narkoba, AKP Purnoto dan anggota lainnya, saat Konfrensi Pers dan gelar barang bukti perkara penyalahgunaan narkoba serta tersangkanya, di aula Polres HST, Jumat (23/6/2017). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Peredaran obat-obatan yang izin edarnya ditarik kementerian kesehatan, kembali diungkap Satnarkoba Polres Hulu Sungai Tengah.

Selama Ramadan, berhasil disita sebanyak 30.925 butir obat daftar G, jenis zenith/carnophen, 10.000 butir dextromertophen, serta uang tunai Rp 617 ribu. Adapun total nilai barang bukti tersebut ditaksir Rp 150 juta.

Kapolres HST AKBP Mugi Sekar Jaya didampingi Kasatres Narkoba, AKP Purnoto Jumat (23/6/2017) menjelaskan, selain obat daftar G, juga disita 1,06 gram sabu.

Adapun jumlah tersangka, sebanyak delapan orang, dan saat ini masih menjalani proses hukum. Sebagian perkara telah dilimpahkan ke kejaksaan Negeri HST.

Dijelaskan, semua kasus tersebut diungkap sejak 27 Mei hingga 23 Juni 2017, dalam rangka Operasi Cipta Kondisi.

“Kegiatan ini ditingkatkan selama Ramadan. Hasilnya, obat-obatan Daftar G masih marak beredar di masyarakat, baik oleh remaja, hingga lansia. Termasuk narkoba jenis sabu. Untuk barangnya, kebanyakan berdasarkan pengakuan tersangka dari Banjarmasin. Namun,kami kesulitan mengembangkan pemasok besarnya. Termasuk pihak yang memproduksi karena sistem jual putus,” kata Kapolres.

Jual putus dimaksud, adalah dimana pembeli hanya sekali bertemu dengan penjual. Selanjutnya, tidak ada transkasi maupun kontak dengan penjual. Antar pemasok dan pembeli (pengedar) juga tak saling kenal, sehingga kepolisian kesulitan melakukan penyelidikan lebih jauh.

Disebutkan, Zenith/carnophen yang dijual para pengedar, secara kemasan fisik terlihat buatan pabrik, atau diproduksi secara pabrikan, dengan merek produk yang sudah ditarik izin edarnya oleh Kemenkes RI. Namun, kenyataanya obat tersebut masih beredar, yang artinya masih ada pihak yang memproduksi.

“Untuk mencari pihak yang memproduksi, perlu penyelidikan lebih dalam, karena kemungkinan diproduksi dari luar daerah. Tapi tak menutup kemungkinan juga ada pihak yang memproduksi dari daerah. Itu yang masih diselidiki,” kata Kapolres.

Diapun mengimbau warga, yang mengetahui ada peredaran obat atau narkoba, agar secepatnya melaporkan ke pihak kepolisian terdekat. (*)

Penulis: Hanani
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved