Berita Banjarbaru

Pendulangan Intan Tak Masuk Peta Wisata Kota Banjarbaru, Warga Pumpung Merasa Dianaktirikan

Satu hal yang banyak dipertanyakan adalah pendulangan intan tradisional Pumpung tidak termasuk daftar peta wisata itu. Warga Pumpung pun protes.

Pendulangan Intan Tak Masuk Peta Wisata Kota Banjarbaru, Warga Pumpung Merasa Dianaktirikan
Halaman 2 Harian Metro Banjar Edisi Jumat (30/6/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Wali Kota Banjarbaru, Nadjmi Adhani mempromosi 19 lokasi wisata unggulan melalui media sosial miliknya. Hal ini banyak mendapat apresiasi, tapi tak sedikit juga yang mempertanyakannya.

Satu hal yang banyak dipertanyakan adalah pendulangan intan tradisional Pumpung tidak termasuk daftar peta wisata itu. Warga Pumpung pun protes. Bahkan, di antaranya sampai ada berpikiran jika kawasan pendulangan intan dianaktirikan. "Pendulangan intan kok tidak masuk daftar wisata. Pendulangan intan tradisional kan ramai juga dikunjungi wisatawan," ucap warga, Yanti.

Yanti juga heran ketika melihat di media sosial, pada peta wisata yang diunggah Nadjmi Adhani, pendulangan intan Pumpung tidak termasuk . Nadjmi hanya menyebut lokasi-lokasi yang kekinian seperti Kampung Pejabat, Kampung Iwak, Lapangan Murdjani, Hutan Pinus, Kampung Pelangi , hingga Danau Seran.

Lokasi pendulangan intan Pumpung memiliki ciri khas yakni monumen di kiri jalan dengan hiasan miniatur intan sebesar kepala kerbau di puncak. Konon, hiasan itu jadi simbol temuan intan seberat 166,75 karat pada 1965 yang kemudian diberi nama Intan Trisakti oleh Presiden Soekarno.

Lokasi pendulangan berupa tanah lapang dengan banyak cerukan lebar bekas galian di berbagai tempat. Tanah berwarna coklat kekuningan dengan tanaman ilalang di sekitarnya, terasa tandus. Di lokasi banyak terdapat bambu-bambu melintang bernama kasbuk.

Suasana disana masih ramai aktivitas pekerja seperti membuat lubang hingga melinggang. Luthfi, satu di antarannya, sudah sejak umur 11 tahun sudah melinggang, walau penghasilan tidak menentu. "Satu hari paling dapat hasil Rp 5 ribu, ya paling 100 miligran berupa serbuk," katanya.

Di Pumpung, juga ada aktivitas penjual batu dan aksesoris. Desa Wisata Pumpung punya bangunan yang disebut gerai batu permata. "Tolong jangan dianaktirikan. Kami berharap Pumpung masuk peta lokasi wisata. Soalnya wisatawan kalau ke Banjarbaru, biasa ke Pumpung. Sangat disayangkan kalau tak masuk peta wisata," ucap Arkani, Ketua RT 30 Desa Pumpung.

Warga disana berharap pembebasan lahan terealisasi pada 2017 ini. Warga meminta lahan 10 hektar dibebaskan dan dibangun lahan objek wisata.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarbaru, Lesa Fahriana mengatakan, agar warga tak perlu untuk khawatir karena Pemko Banjarbaru saat ini sedang memikirkan dan proses menata kawasan Pumpung.

"Kami lagi konsolidasi penataan dan pengembangannya. Perlu penataan lebih serius bersama masyarakat setempat utamanya dengan Pokdarwisnya. Kami sudah koordinasikan dengan pihak kecamatan dan kelurahan setempat. Segera akan menyusul Destinasi Kawasan Pendulangan Tradisional Ramah Lingkungan Pumpung," ujar Lesa, Kamis (29/6).

Diterangkannya, langkah itu sekaligus akan menyeimbangkan anggapan selama ini, bahwa pendulangan adalah perusakan lingkungan.

"Kami berharap tiga bulan ke depan keadaan Pumpung bisa ditata lebih baik. Kami merencanakan penanaman pohon sebanyak-banyaknya di Kawasan Pumpung agar teduh dan nyaman buat pengunjung. Mohon doa semoga bisa terlaksana," katanya. (kur)

Baca Lengkap di Harian Metro Banjar Edisi Jumat (30/6/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved