Banjarmasin Post Edisi Cetak

Puisi: Musim

Di zaman piatu. Daun menjadi anak tunggal Sebab ditinggalkan oleh induknya satu persatu Seperti pada musim berikutnya, hujan meniadakan matahari

Puisi: Musim
BPost cetak 

Musim

Di zaman piatu. Daun menjadi anak tunggal
Sebab ditinggalkan oleh induknya satu persatu
Seperti pada musim berikutnya, hujan meniadakan matahari
Durasinya lebih lama dari tragedi yang telah dilahirkan hari
Dan subuh melahirkan bisikan-bisikan kecemasan
Karena jalan sungai adalah simponi pengenangan
Air mata ikan telah membawa pantai kepada konser angin laut
Dan kita masih merindukan ombak yang sama
Bahwa kau adalah kekasihku dan aku adalah pacarmu
Rindu adalah tragedi musim keresahan
Waktu berjalan tanpa kaki
Angin diam mengebiri
Matahari minta permisi
Di musim berikutnya. Aku masih pencari tanda tanya
Seperti inikah seorang pecinta yang tak menemukan musim
Mencari pacarnya diantara waktu dan musim bersembunyi
Mungkin suatu hari nanti ketika azan telah berkumandang
Musim-musim akan bertanya pada diri sendiri
Dingin telah tiada dan panas membakar dirinya sendiri
Keita akan sama-sama merindukan
Tentang arti sebuah tanya. Untuk kekasihnya

Ketika kalimat telah mati
Ia dikubur pada buku-buku tua
Yang kita simpan di tas kumal dan meja berdebu
Seperti halnya Umbu yang berjalan sepanjang tepian jalan
Kita pernah mencari maqam yang disembunyikan awan
Dan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya
Membawa kata-kata ditembok para pemburu
Tapi ia tidak mati dan terus berjalan
Disuatu hari ditengah kota
Aku menemukan kalimat mati bersimbah luka
Ia tidak dapat di kubur dengan segera
Hanya menunggu ketika hujan telah datang
Dan membawanya pulang

Sebuah Perjalanan

Perjalanan telah menjamu waktu
Ketika kita telah sampai pada kata-kata
Istirahat sejenak menikmati puisi
Yang dimakan para warung pinggir jalan
“Emperan Tuhan” melangkahkan kaki kita lebih jauh
Mengetuk pintu rumah sahabat
Dan memutari kota Amuntai
Setelah makan malam seekor itik
Tugu itik membentang selamat datang
Danau-danau memberi sambutan di gerbang kota
Kita pun majelis puisi
Tentang sajak-sajak “Si Janggut Naga”
Waktu membatasi segalanya
Di sebuah perjalanan

Yang Memeram Sebuah luka

Pada tangis mana kau mampu menyeret badai
Di antara doa-doa yang tumbang
Kau masih mengoyak luka yang ku peram
Dan gelas-gelas jatuh pada bercerita
Sebuah rintik yang tak mampu lagi di pahami awan
Sketsa sebuah luka adalah hari yang hujan
Menyimpan kenangan pada jalan berlubang
Di sepanjang etalase sore
Saat senja kuning membuka rindu di bibir sungai
Dua ekor belibis dan sepasang burung kedinginan
Menunggu matahari yang tak kunjung datang
Sebab luka kau peras keringan hari
Di atas segala muara
Aku masih di sini
Jika kelak kau datang bersama langit malam
Carilah aku di dasar sebuah rindu
Yang ku peram hingga hari ini

Karya: Syarif Hidayatullah

*Syarif hidayatullah, kelahiran Marabahan, 20 Oktober. Karya puisi Mahasiswa Ekonomi Syariah IAIN Antasari Banjarmasin ini di muat berbagai media lokal dan beberapa antologi puisi bersama. Buku antologi tunggalnya Estetika Dalam Sandiwara (2013) dan Hijrah KeRantau (2016). Sekarang bermukim di Banjarmasin.

Puisi telah terbit koran Banjarmasin Post edisi hari ini, Minggu (9/7/2017)

Dapatkan juga berita-berita dari harian Banjarmasin Post setiap hari dengan mengklik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help