Berita Banjarmasin

NEWSVIDEO: 'Virus Cacar' Cabai Menyerang, Begini Cara Mengatasinya

Mereka datang ke sentra tani cabai dan sayuran, Maryonodi Landasan Ulin Utara, Jalan Tol Lingkar Utara, Senin (10/7/2017).

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Pasca adanya serangan "virus cacar" ke tanaman cabai, petugas dari Dinas Pertanian dan Holtikultura serta Balai Proteksi Tanam Pangan dan Holtikultura Kalsel, langsung melakukan cek ke lokasi.

Mereka datang ke sentra tani cabai dan sayuran, Maryonodi Landasan Ulin Utara, Jalan Tol Lingkar Utara, Senin (10/7/2017).

Ketika melihat kondisi tangkai cabai yang rusak, seketika itu pula H Arifin selaku Kabid tanaman hortikultura langsung mencabut dan menyuruh si Maryono untuk membakarnya. "Nah, seperti ini pak, cabai yang ini jangan dipertahankan, langsung petik kalau ada yang cacar, dan kalau banyak langsung cabut dan bakar," kata M Arifin.

Disebutkannya, perubahan iklim ini bisa menyebabkan munculnya jamur yang bisa menyerang dan mengakibatkan cabai sakit, namanya jamur antracnose.

M Arifin menyarankan agar tanaman disemprot dengan jamur antagonis yang disebut jamur trichoderma. "Jamur ini sifatnya bisa menyerang jamur yang menyebabkan cabai kenai cacar tersebut," kata dia.

Karena itu pun, dia bekerjasama dengan Balai Proteksi Tanam Pangan dan Holtikultura Kalsel untuk memberikan cuma cuma nantinya sebanyak satu kilo untuk jamur Trichoderma tersebut. "Nanti akan diberi, tapi nanti dibuat sendiri karena petaninya akan diberikan pelatihan untuk membuat itu," kata dia.

Sementara, Kepala Balai Proteksi Tanam Pangan dan Holtikultura kalsel, DR H Suparno. menjelaskan yang menyerang petani cabai bukan virus cacar. "Yang saya lihat dan teliti sementara ini dari laporan yang ada adalah serangan penyakit tanaman.

Penyakit ini disebabkan oleh jamur nama jamurnya Antracnose. Bahayanya kalau tidak diperlakukan dengan budidaya tanaman sehat, bisa menyebabkan fuso alias gagal panen," kata dia.

Menurut dia, bukan hanya cabai, namun dari laporan sementara se Kalsel ada sebanyak 12 hektar luasanya yang terkena beberapa jenis penyakit, mulai antracnose sampai phyopthora. Tapi, khusus penyakit Antracnose dilaporkan baru sekitar 5,9 hektar.

Petani guna mengatasinya tidak perlu risau. "Jika sudah terserang maka langkah yang harus dilakukan yakni cabai harus dipetik muda petik hijau. Lalu tanaman cabai tersebut dicuci dengan jamur Trichoderma dicampur dengan satu kilogram telur ayam diaduk 200 liter air.

Itu dilakukan agar tanamannya tubuh sehat. Jika si petani sudah menerapkan itu dijamin tidak ada madalah. Para petani bisa melaporkan soal hama penyakit ini ke Petugas Hama Penyakit (PHP) di daerah masing masing dan di satu Kecamatan satu petugas PHP, atau bisa saja langsung melapor ke Balai Proteksi Tanam Pangan dan Holtikultura Kalsel," kata dia.

Suparno menyatakan kalau melihat dari kasus yang ada, dapat terlihat bahwa petani kurang merawatnya. Mulai dari kontruksi gundukan dna hingga menanamnya. "Kalau ada muncul gejala penyakit cacar itu seperti itu dipetik lalu dibuang, jangan dibiarkan karena kalau dibiarkan maka akan menyebar," ujarnya

Dirinya juga memperjelas bahwa jika cabai sudah diserang dengan jamur tersebut sejatinya masih bisa dikonsumsi. "Hanya tampilannya saja dan kalau dijual dipasaran memang turun harga. Sedangkan untuk mengatisipasinya tidak lain dengan cara dicuci dengan jamur Trichoderma," terangnya. (Banjarmasin Post/Nurholis Huda)

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved