BanjarmasinPost/

Ekonomi dan Bisnis

Lakukan Budidaya Jamur Manual, Nanang Impikan Bisa Tembus Ritel Modern

Pada campuran permentasi yang di perlihatkannya kepada BPost, Rabu (12/7) dia mengatakan bahan yang disimpan di dalam terpal biru

Lakukan Budidaya Jamur Manual, Nanang Impikan Bisa Tembus Ritel Modern
dokumen
BPost edisi Jumat (14/7/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - TANGAN Wahib aktif memeriksa gundukan di balik terpal berwarna biru yang dijadikan tempat permentasi bahan untuk membudidayakan jamur. Lelaki itu bekerja membudidayakan jamur secara manual di rumahnya, Jalan Veteran Kompleks A Yani 1, No 26, RT 17 Banjarmasin.

Pada campuran permentasi yang di perlihatkannya kepada BPost, Rabu (12/7) dia mengatakan bahan yang disimpan di dalam terpal biru itu campuran antara dadak padi, gabuk dan kapur. Sejumlah bahan itu diaduk hingga merata agar jamur tumbuh sesuai yang diinginkan.

Wahib menambahkan air pada bahan yang akan dipermentasi. Kadar air yang dia campur tidaklah banyak. Hanya untuk membuat bahan menjadi lembek dan lembab.

Selama permentasi, adukan bahan itu memerlukan waktu dua hingga tiga hari. Kemudian barulah bisa dimasukan pada polyback yang menggunakan plastik transparan berukuran 0,3 milimeter.

Lantas, bahan yang sudah dipermentasi dan dimasukkan ke dalam polyback atau yang disebut Wahib lock itu dimasukkan ke dalam drum air. Sebelum dimasukan ke gudang Wahib merebus campuran itu ke dalam air mendidih hingga enam jam.

Enam jam berlalu, dia mengangkat lock untuk menumbuhkan jamur. Kemudian dia dinginkan. Ketika proses pendinginan selesai dia memasukkan tempat tumbuhnya jamur ke dalam ruang lembab panas.

“Selama lima belas hari hingga campuran dadak di dalam lock memutih, barulah dipindahkan ke ruangan yang lain. Dimana suhu ruangan itu lembab basah agar jamur tumbuh,” ungkapnya.

Segala proses dilakukan secara manual menggunakan kedua belah tangan. Tenaga banyak terkuras untuk pembudidayaan jamur. Namun menurut Wahib karena itu tuntutan pekerjaan maka sewajarnya dia merasa lelah.

“Sementara ini manual karena mesin tidak ada, berbeda dengan di Jawa. Tapi namanya kerja pasti ada capeknya karena pakai tenanga,” tutur Wahib.

Selengkapnya baca harian Banjarmasin Post, Jumat (14/7//2017), atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

BPost edisi Jumat (14/7/2017)
BPost edisi Jumat (14/7/2017) (dokumen)
Editor: Didik Trio
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help