BanjarmasinPost/

Pasar Ritel Indonesia Kalah dari Malaysia Hingga Turun Peringkat Dunia, Simak Penyebabnya

"Banyak gerai-gerai yang tutup terutama fashion. Sebut saja satu di antaranya Debenhams di Kemang Village," kata Andreas kepada KompasProperti, Rabu (

Pasar Ritel Indonesia Kalah dari Malaysia Hingga Turun Peringkat Dunia, Simak Penyebabnya
TRIBUNKALTENG.com/jumadi
(Ilustrasi) Salah satu tenant yang menyediakan konveksi dengan diskon. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Tak keliru bila pengamat ritel Andreas Kartawinata mengatakan bisnis ritel Indonesia sedang tertekan.

Bukan hanya menurunnya daya beli dan spending power yang berkurang, namun juga ketatnya persaingan antar-peritel.

"Banyak gerai-gerai yang tutup terutama fashion. Sebut saja satu di antaranya Debenhams di Kemang Village," kata Andreas kepada KompasProperti, Rabu (12/7/2017).

Tertekannya pasar ritel yang sejatinya telah dimulai pada semester kedua tahun 2016 lalu, berdampak pada posisi Indonesia di Global Retail Development Index 2017 keluaran AT Kearney.

Lembaga dunia ini menempatkan Indonesia di peringkat 8 dunia, jauh di bawah Malaysia dengan poin 55,9. Posisi ini melorot 3 level dibanding pencapaian tahun lalu yang masuk dalam lima teratas dunia.

AT Kearney melakukan pemeringkatan ini berdasarkan pada empat variabel utama yakni attractiveness sebesar 25 persen, country risk (25 persen), market saturation (25 persen), dan time pressure (25 persen).

Untuk variabel attractiveness, poin Indonesia hanya 49,3. Kalah dari Malaysia sebagai sesama negara Asia Tenggara yang berada di posisi ketiga dengan 77,1.

Sedangkan untuk variabel country risk, Indonesia juga dipecundangi negeri jiran itu dengan poin 45.5.

Kemudian variabel market saturation, poin Indonesia lebih tinggi yakni 52,1, sementara Malaysia 23,3. Variabel terakhir yakni time pressure, Indonesia meraup nilai 76,7.

AT Kearney juga mencatat Indonesia dengan penduduk 259 juta dan paritas daya beli terhadap pendapatan per kapita sekitar 11.699 dollar AS, meraup penjualan total ritel senilai 350 miliar dolar AS.

Halaman
123
Editor: Ernawati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help