BanjarmasinPost/

Berita nasional

Komalasari Diperalat Jadi Pemandu Wisata oleh Turis Sindikat Narkoba Asal Taiwan

Senang tentu dirasakan Komalasari saat mendapat job memandu wisatawan. Selama dua pekan dia diminta menemani sejumlah turis dari Taiwan.

Komalasari Diperalat Jadi Pemandu Wisata oleh Turis Sindikat Narkoba Asal Taiwan
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Minggu (16/7/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Senang tentu dirasakan Komalasari saat mendapat job memandu wisatawan. Selama dua pekan dia diminta menemani sejumlah turis dari Taiwan. Tarifnya Rp 300 ribu perhari. Itu artinya dia mendapat Rp 4,2 juta hanya dalam waktu dua pekan.

Namun kegembiraan Komalasari tak berlangsung lama. Dia kini harus berurusan dengan polisi. Ternyata wisawatan asal Taiwan itu anggota sindikat penyelundupan satu ton sabu-sabu senilai Rp 1,5 triliun melalui pantai Anyer, Serang, Banten, Kamis (13/7) dini hari.

Dua hari menjelang penjemputan sabu di pantai belakang Hotel Mandalika, Komalasari tidak lagi dipakai sebagai pemandu wisata. “Pelaku mengantarkan Komalasari ke rest area Balaraja. Mereka tidak lagi menggunakan jasa Komalasari. Alasannya ingin bersenang-senang dengan wanita,” ujar Wakil Kepala Satuan Narkoba Polres Depok, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Rosana Albertina Labobar alias Ocha, di Polda Metro Jaya, Sabtu (15/7).

Komalasari kemudian dijemput oleh saudaranya di rest area tersebut. Seusai mengantarkan sang pemandu wisata, para tersangka menuju ke pantai di belakang Hotel Mandalika. Mereka menunggu kedatangan satu ton sabu dari Guangzhou, Cina.

“Komalasari sebelumnya selalu menemani para tersangka. Ia bahkan disewakan kamar di hotel yang sama dengan tersangka,” kata Ocha.

Tim gabungan dari Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya dan Kepolisian Resor Kota Depok menggagalkan penyelundupan satu ton sabu di Serang, Kamis dini hari.

Penyelundupan melibatkan empat warga Taiwan yaitu LMH, CWC, LGY, dan LMH. Dalam penggerbekan itu tersangka LMH ditembak mati oleh polisi karena hendak menabrakkan mobil kepada petugas.

Para tersangka mengaku mengenal Komalasari melalui aplikasi komunikasi We Chat. Komalasari pernah bekerja di Taiwan dan fasih bahasa Mandarin.

Identitas Komalasari digunakan untuk menyewa mobil dan menyewa kamar hotel. “Komalasari benar-benar diperalat para tersangka,” kata Ocha.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso menyebut ada penyelundupan narkoba yang lebih besar daripada di pantai Anyer, berhasil lolos masuk ke wilayah Indonesia.

“Ada yang lebih besar lagi. Itu mau disebarkan di Jawa,” ungkap Budi Waseso.

Pria yang akrab disapa Buwas itu menambahkan timnya bekerja sama dengan beberapa instansi lain tengah menelusuri jejak pelaku dan mencari tahu keberadaan narkoba berjumlah fantastis itu.

Karena masih dalam penelusuran, Buwas tidak bisa menyebutkan jaringan internasional maupun jumlah narkoba tersebut. Hal itu baru akan disampaikan ke publik setelah kasus narkoba kakap ini dapat diungkap.

“Saya tidak bisa katakan serkarang karena itu kerahasiaan kami dan kami sedang mengikutinya. Tapi yang pasti, yang lolos itu lebih besar dari yang 1 ton itu,” jelas mantan Kepala Bareskrim Polri itu. (tribunnetwork/den/coz)

Baca Lengkap di Harian Banjaramsin Post Edisi Minggu (16/7/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help