Berita Kabupaten Banjar

Melestarikan Pohon Buah Kacapuri di Astambul, Faturahman Data Pohon yang Tersisa

Salah satunya yang sekarang sangat jarang ditemui adalah buah Kacapuri. Tidak banyak anak muda yang mengetahui buah ini apalagi pohonnya.

Melestarikan Pohon Buah Kacapuri di Astambul, Faturahman Data Pohon yang Tersisa
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Kamis (20/7/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - KALIMANTAN Selatan begitu kaya dengan beragam jenis tanaman buah yang khas Kalimantan dan terlihat unik. Sayangnya, tanaman ini semakin langka sehingga buahnya tidak terlihat lagi dijual di pasar tradisional.

Salah satunya yang sekarang sangat jarang ditemui adalah buah Kacapuri. Tidak banyak anak muda yang mengetahui buah ini apalagi pohonnya. Padahal buah Kacapuri dulu dijual di banyak pasar. Bahkan kemungkinan beberapa tahun lagi, pohon Kacapuri tidak lagi ditemui.

Nilai ekonomis kayunya yang tinggi membuat pohon Kacapuri ditebangi. Ini karena batangnya lurus dan kekuatan kayunya di bawah ulin.

Saat ini ada beberapa pohon Kacapuri di Desa Kaliukan RT 2 Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar.

Semakin langkanya pohon ini mendorong Ketua RT Faturahman dan Pambakal Kaliukan Aspihani berusaha mempertahankannya. Sekelompok pohon Kacapuri tumbuh di antara pohon Enau di lahan milik mertua Faturahman.

“Ada sekitar delapan batang pohon Kacapuri di tempat ini. Anaknya juga banyak. Kami akan jaga agar pohon ini tidak ditebang,” ujar Faturahman.

Aspihani menjelaskan buah kacapuri adalah salah satu buah khas Kalimantan. Bentuknya bulat dengan kulitnya yang tebal. Daging buahnya putih tipis mengelilingi biji yang besar. Dalam satu buah kacapuri terdapat lebih dari satu biji. Rasanya manis apabila buahnya sudah masak. Buah kacapuri yang mentah rasanya sepat.

“Mirip manggis cuma kulitnya agak keras kecuali jika sudah benar-benar masak. Kalau matang, manis rasanya tetapi kalau mentah sepet,” terang Aspihani.

Dia menjelaskan, dulu ada ratusan pohon Kacapuri di Kaliukan. Buahnya pun sangat mudah ditemukan di pasar. Tapi sekarang buah ini nyaris tidak pernah terlihat.

Kayu Kacapuri bernililai ekonomi. Warna batangnya merah dan sangat kuat di bawah ulin. Biasanya digunakan untuk lantai dan dinding. Kayunya keras hingga paku pun bisa bengkok.

Menurutnya, jika tidak dipertahankan mungkin beberapa tahun ke depan pohon ini punah. Saat ini saja, pohon ini tidak banyak tersisa di Desa Kaliukan. Oleh sebab itu, dia mencoba menginventarisasi pohon ini dan mengimbau warga untuk tidak menebangnya.

“Saya kira harus dijaga dan dilestarikan Jika tidak bisa punah pohon ini,” ungkapnya.

Camat Astambul Jurji Zaidan mengaku juga tidak pernah melihat pohon Kacapuri. Tanaman ini khas dan langka sehingga memang harus dijaga dan dilestarikan.

“Kami juga akan undang peneliti untuk mengkaji pohon Kacapuri sehingga bisa dipublikasikan keberadaan pohon buah ini,” terang Jurji. (wid)

Baca Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Kamis (20/7/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved