Obat Hati

Ketua DDII Kota Banjarbaru

Pemuda itu keempat kalinya bertanya siapa lagi ya Rasullullah, barulah Rasullullah menjawab bapakmu. Hadis ini diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Ketua DDII Kota Banjarbaru

Oleh: HM Taslim

BANJARMASINPOST.CO.ID - Di masa Rasullulah SAW hidup pernah seorang pemuda bertanya: Ya Rasullulah, siapakah orang yang lebih berhak saya pergauli dengan baik, beliau menjawab ibumu. Ia bertanya lagi, selain itu siapa lagi? Ibumu, sesudah itu siapa lagi, ibumu.

Pemuda itu keempat kalinya bertanya siapa lagi ya Rasullullah, barulah Rasullullah menjawab bapakmu. Hadis ini diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Di lain kesempatan pernah ada seorang laki-laki minta izin kepada Nabi untuk ikut berperang membela agama Islam. Ketika itu ia ditanya oleh Nabi apakah engkau mempunyai seorang ibu. Dia jawab punya ya Rasulullah, adakah saudaramu yang tinggal serumah dengan ibumu? Tidak ada. Spontan Rasulullah mengatakan jagalah baik-baik ibumu, karena surga di bawah telapak kaki ibu. (HR Ibnu Majah)

Rasulullah tidak mengizinkan laki-laki tersebut pergi ikut berperang membela Agama Islam demi izzul Islam wal muslimin. Tetapi lebih memerintahkan agar pemuda itu merawat ibunya agar tidak ditelantarkan. Meskipun kita sadar berperang untuk meninggikan kalimat Allah, ternyata tidak dapat mengalahkan kewajiban berbakti kepada seorang ibu.

Martabat ibu rupanya masih terlalu tinggi untuk dapat dikalahkan oleh alasan jihad fisabilillah. Dalam konteks yang lain Rasulullah pernah mengatakan, “Orang yang paling besar haknya kepada anak, ialah ibunya.” (HR Hakim)

Pernah suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW. Laki-laki itu menerangkan perihal kebaikan yang dilakukannya kepada ibunya. Dikatakannya bahwa ia mempunyai seorang ibu, digendongnya ibunya itu di atas punggungnya, tidak pernah ia bermasam muka kepadanya dan diserahkannya pula hasil usaha atau pencaharian setiap hari. Lalu laki-laki itu bertanya apakah sudah terbalas budi baik ibu saya, Rasulullah SAW menjawab, tidak.

Membalas satu napasnya yang panjang pun, tidak! Selanjutnya ketika laki-laki itu bertanya lagi kepada Nabi mengapa demikian, Nabi menjawab, "Karena ibumu memelihara kamu, ia mendambakan kamu panjang umur, sedangkan kamu memelihara dia, bukankah kamu inginkan dia segera mati."

Menurut ukuran kita, barangkali baktinya laki-laki tersebut kepada ibunya seperti yang diterangkan oleh hadis tersebut di atas sudah dianggap luar biasa. Tetapi toh Rasulullah SAW mengatakan bahwa hal itu sama sekali belum bisa membalas budi baik dan jeri payah seorang ibu.

Ini menunjukkan betapa besar dan mulianya jasa seorang ibu yang harus dihormati oleh setiap anak. Anak yang tidak pandai menghormati seorang ibu tidak mustahil terperosok kepada sikap durhaka, dan anak yang durhaka jangan berharap untuk masuk surga.

Perhatikan ucapan Rasulullah SAW, “Keridhaan Allah terletak pada keridhaan ibu bapak, dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan ibu bapak (HR Tirmizi). Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk menyimak cerita-cerita singkat di zaman Rasulullah tersebut. (kur/*)

Baca Lengkap di Harian Metro Banjar Edisi Cetak Jumat (28/7/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help