Ekonomi dan Bisnis

Menengok Usaha Kacang Kulit di Astambul : Suriansyah Guling Empat Drum Setiap Hari

Walaupun sekarang banyak perusahaan pengolahan kacang kulit yang pemasarannya hingga ke pelosok, Sariani mengaku usahanya tidak terpengaruh.

Menengok Usaha Kacang Kulit di Astambul : Suriansyah Guling Empat Drum Setiap Hari
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Jumat (28/7/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Tangan kanan Suriansyah (30) terus memutar tuas drum di sampingnya. Jika terasa pegal, giliran tangan kirinya yang memutar tuas. Putaran drum berwarna hitam karena terus-menerus dibakar itu tidak boleh berhenti. Soalnya kacang kulit yang ada di dalamnya bisa gosong.

Sekitar 1,5 jam, warga Desa Jati Baru RT2 RW 1 Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar itu harus memutar drum.

Sementara itu berulang kali, ibu Suriansyah, Sariani (50), meratakan nyala api dari kayu bakar di bawah drum. Sariani sesekali membuka drum dan mengeluarkan satu-dua biji kacang tanah dari dalam drum dan mengupasnya.

"Belum. Sebentar lagi matang. Kalau matang agak kekuningan warna biji kacangnya,"ungkap Sariani sesaat setelah memeriksa kacang yang dikeluarkannya dari dalam drum.

Proses pengolahan kacang yang dilakukan Suriansyah dan ibunya disebut warga mengguling kacang. Setiap harinya, mereka mengguling empat karung atau 400 liter kacang kulit.

Sariani adalah satu dari empat pengrajin kacang sangrai di Jati Baru. Kacang olahan pengrajin di desa ini terbilang alami. Rasa yang dihasilkan pun alami yakni gurih dan manis tanpa campuran bumbu.

Menurut Sariani, usaha kacang sangrai di Jati Baru berlangsung sejak sekitar dua puluh tahun lalu. Saat itu untuk mengolahnya menggunakan wajan besar. Namun peralatan untuk menyangrai berubah saat mereka melihat pengrajin kopi.

"Awalnya pakai gulingan kecil seperti yang digunakan pengrajin kopi. Tetapi, kemudian diolah gulingan dari drum sehingga kapasitas kacang yang diolah bisa lebih banyak," katanya.
Satu drum bisa menampung 100 liter kacang kulit. Satu hari, Sariani bisa mengolah sekitar 400 liter kacang kulit.

Kacang hasil olahan kemudian dibungkus dengan plastik kecil. Empat drum bisa jadi 4.800 bungkus kacang kulit besangrai. Satu bungkusnya dijual Rp 650. Jadi jika laku, sehari Sariani bisa mendapat Rp 3.120.000. Ini belum termasuk biaya produksi.

"Kacang kulit besangrai ini dijualnya di Martapura sampai Banjarmasin," terang Sariani.

Walaupun sekarang banyak perusahaan pengolahan kacang kulit yang pemasarannya hingga ke pelosok, Sariani mengaku usahanya tidak terpengaruh. Permasalahan yang dihadapinya cuma satu yakni mahalnya kacang kulit mentah.

"Satu karung ini isinya 100 liter. Harganya Rp 600 ribu. Jika mengolah 400 liter kacang kulit dalam sehari, kami perlu modal Rp 2,4 juta," katanya.

Padahal dia harus menyetok kacang tanah sebanyak-banyaknya agar tidak sampai kehabisan. "Jika stok habis dan kacang kulit di Pengaron kosong terpaksa kami libur. Itu biasa terjadi pada November-Desember. Kacang di gunung kosong karena belum panen," katanya.

Camat Astambul, Jurji Zaidan mengatakan, kacang kulit besangrai dari Desa Jati Baru merupakan salah satu produk unggulan daerahnya. Ini karena rasanya yang gurih alami.

"Namun pengemasannya perlu mendapatkan pembinaan instansi berwenang," katanya. (wid)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved