Mom and Kids

Psikolog Sukma Noor Akbar: Hindari Memanjakan Anak

Anak umur tujuh tahun dijadikan patokan untuk masuk Sekolah Dasar (SD). Umur tersebut secara psikologi dianggap secara kognitif sudah matang.

Psikolog Sukma Noor Akbar: Hindari Memanjakan Anak
Halaman 15 Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Minggu (6/8/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Setiap manusia akan melewati suatu tahapan tumbuh-kembang tertentu. Tahapan ini menjadi tugas orangtua untuk memiliki bekal pengetahuan agar anak bisa tumbuh optimal. Bisa menstimulasi agar anak terus belajar dan mengatasi tantangan-tantangan dalam tumbuh kembangnya.

Tugas orangtua adalah memberikan pengasuhan yang tepat, sesuai dengan porsinya. Senatiasa mendukung agar anak bisa lebih percaya diri melewati tahapan perkembangannya.

Anak umur tujuh tahun dijadikan patokan untuk masuk Sekolah Dasar (SD). Umur tersebut secara psikologi dianggap secara kognitif sudah matang. Mampu lebih mandiri. Lebih mampu untuk mengontrol emosinya. Siap pula secara motorik kasar serta motorik halusnya.

Anak umur 7 sampai 11 tahun merupakan tahap konkret operasional. Pada tahap ini, anak sudah bisa menjalankan secara operasional dan berpikirnya mulai berpikir secara rasional.

Rasa ingin tahu anak untuk mengekloprasi berbagai hal sangatlah tinggi. Sudah mulai belajar untuk mengambil keputusan sendiri yang berakibat anak menjadi lebih memiliki kehendak. Bahkan cenderung memaksakan kehendaknya.

Hal ini diperparah ketika pola asuh di keluarga, cenderung memanjakan anak. Anak menjadi lebih lamban untuk matang atau mandiri. Sulit berkembang secara bijak. Karena biasanya, anak ini lebih memikirkan dirinya sendiri. Bakal mengamuk jika apa yang diinginkan tidak tercapai.

Hal yang perlu diperhatikan adalah anak tetap perlu dilatih dalam memutuskan sesuatu. Itu mengembangkan kepercayaan dirinya dan mengasah kemampuan kemandiriannya dalam mengambil keputusan. Misalkan, saat memilih baju sendiri, memilih menu makan sendiri, memutuskan berkunjung ke suatu tempat dan lain sebagainya.

Sebelumnya, orangtua hendaknya memberikan contoh atau melatih anak. Ketika sedang membuat keputusan, tunjukkanlah pada mereka proses pengambilan keputusan itu. Tunjukkan kelebihan dan kekurangan dari setiap pilihan. Kemudian, bandingkan kedua pilihan satu sama lain. Tunjukkan, faktor penting apa yang akhirnya membuat kita menjatuhkan pada salah satu pilihan itu. (arl)

Baca ini telah diterbitkan di Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Minggu (6/8/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help