Berita Banjarmasin

Ketika Wayang Urang dari Haruyan Ditampilkan, Semar Sempat Mengaku “Kelapahan”

Lurah Semar masuk ke tengah arena dengan berjalan bagelek atau baladon. Sementara kedua tangannya yang mengacungkan dua jari masing-masing

Ketika Wayang Urang dari Haruyan Ditampilkan, Semar Sempat Mengaku “Kelapahan”
dok
BPost edisi Jumat (11/8/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Para penonton sudah menempati hampir semua tempat duduk, yang diatur panitia Taman Budaya Kalsel, Rabu (9/8) pukul 20.15 Wita. Kursi disusun berbentuk segiempat dan di tengahnya terdapat meja. Ada mikrofon di empat sudut jejeran kursi penonton.

Setelah sekitar setengah jam menunggu, pemain Wayang Urang Sanggar Anak Pandawa Desa Panggung Kecamatan Haruyan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mulai muncul. Jodoh di Ujung Tanduk pun dimainkan.

Lurah Semar masuk ke tengah arena dengan berjalan bagelek atau baladon. Sementara kedua tangannya yang mengacungkan dua jari masing-masing diletakkan di kepala dan pinggang. Ini ciri khas wayang urang Banjar.

“Lapah (capek) jua berjalan berjoget kaya ini,” kata Semar sambil memanggil tiga putranya yakni Bagong, Nala Gareng atau Gareng dan Jambalit atau Petruk. Mereka diminta menghadap sang raja, Arjuna. Singkat cerita, mereka dipanggil untuk mencari jodoh putra Arjuna.

Didampingi Angko Jaya, Semar bersama para putranya mendatangi Kerajaan Pasir Tuyasila Amparan, yang sedang menggelar sayembara untuk mencari suami bagi putri raja.

Para peserta diminta melawan jagoan raja yakni Resian Sukma. Siapa yang menang akan menjadi menantu raja.

Namun semua anak raja yang menjadi peserta sayembara kalah. Sewaktu Semar tampil, ternyata putri raja diculik raksasa. Semar beserta para putranya ternyata berhasil mengalahkan raksasa tersebut hingga akhirnya putri raja Pasir Tuyasila Amparan dinikahkan dengan putra Arjuna.

Penampilan Sanggar Anak Pandawa Desa Panggung menarik karena muncul kata-kata spontan dari pemain. Para penonton pun boleh bercelutuk hingga meramaikan suasana.

“Kami sangat senang sekali diundang tampil di Taman Budaya. Ini kali pertama kami tampil di Banjarmasin,” ujar Taufikurahman, Ketua Wayang Urang Sanggar Anak Pandawa Desa Panggung.

Dia pun menjelaskan makna dari cerita ini adalah orangtua berkewajiban mencarikan jodoh yang baik untuk anaknya.

Taufik pun menjelaskan wayang orang dari Jawa masuk ke Kalsel sekitar tahun 1970-an dan dikembangkan Abdui Wahab Sarbaini selaku pimpinan Sanggar Ading Bastari, Dalang Busrajuddin dan Dalang Sadri. “Setelah kai, wayang urang dikembang abah kami dan kini saya,” kata pria kelahiran Barikin, Haruyan, 3 Juli 1979 ini.

BPost
BPost (dok)

Selengkapnya baca harian Banjarmasin Post, Jumat (11/8//2017), atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help