BanjarmasinPost/

Travel Guide

Mengunjungi Dusun Sasak Sude Lombok, Bagai Berada di Zaman Kuno

Keindahan alam Kota Lombok di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memang luar biasa. Keberadaan sebuah kampung tradisional yang dihuni Suku Sasak.

Mengunjungi Dusun Sasak Sude Lombok, Bagai Berada di Zaman Kuno
Halaman 16 Banjarmasin Post Edisi Minggu (13/8/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Keindahan alam Kota Lombok di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memang luar biasa. Keberadaan sebuah kampung tradisional yang dihuni Suku Sasak yang masih alami, turut menjadi daya pikat bagi para wisatawan.

Karenanya, tak heran jika hingga kini banyak wisatawan yang bertandang ke Lombok. Tak cuma wisatawan dalam negeri, tapi juga mancanegara. Termasuk warga Kalimantan Selatan, juga banyak yang plesiran ke sana.

Warga Banua yang pernah travelling ke Lombok di antaranya adalah Astuty Kajol. Ia tak sendirian, tapi bersama anggota keluarganya yakni Cinta Kajol dan serta Syarif, Jainudin, dan Fauzi. Selama dua hari mereka menikmati keindahan alam setempat pada 14 hingga 16 Juli 2017 lalu.

Astuty bertolak dari Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Jumat (14 Juli) pukul 12.10 Wita. Sebelum penerbangan menuju Lombok, pesawat yang mereka tumpangi lebih dulu transit di Kota Surabaya, Jawa Timur, sekitar satu jam.

Perjalananan dilanjutkan dari Surabaya ke Lombok pukul 14.30 Wita. Lama penerbangannya sekitar 1,5 jam, tiba di Lombok pukul 16.00 Wita. “Tarif tiket Banjarmasin-Lombok per orangnya Rp 1.054.000,” sebut Astuty.

Warga Jalan Rawasari, Banjarmasin, ini menuturkan setiba di Bandara Lombok, rombongannya menaiki mobil minibus menuju ke hotel terdekat. Tarif jasa angkutan menuju hotel tersebut Rp 175 ribu. Lalu, pihaknya menginap di sebuah hotel yang cukup mewah bertarif Rp 600 ribu per malam.

“Mungkin agak mahal ya, tapi sesuai juga dengan area dan kamar hotelnya yang luas. Panorama di sekitarnya juga memperona, karena persis di belakang hotel adalah Pantai Senggigi,” ucap Astuty, kemarin.

Selama di Lombok, Astuty sangat penasaran dengan kehidupan di Dusun Sasak Sade, Desa Rimbitan yang masih mempertahankan tradisi nenek moyang secara turun temurun. Menuju lokasi ini ia mencarter mobil minibus.

Rombongannya berangkat dari hotel ke Desa Sasak sekitar satu jam. Tarifnya Rp 400 ribu selama satu hari. Jadi, tidak terlalu mahal, karena bisa keliling Lombok menuju berbagai tempat yang diinginkan.

Ibu tiga anak ini mengatakan, sebelum menginjakkan kaki di perkampungan Dusun Sasak Sade, lebih dulu beristirahat di Balai Tiang 6 dan Tiang 4. “Memasuki Dusun Sasak Sade rasanya berada di masa lalu (zaman kuno). Dusun ini ada sejak tahun 1700 Masehi, tapi kondisi rumah dan adat istiadatnya tidak berubah. Sungguh luar biasa,” ucap Astuty.

Ruangan dalam rumah terlihat sangat alami, dinding terbuat dari tanah. Bangunan rumah terbuat dari tanah liat dan beratap ilalang kering. Konstruksi pintunya didesain rendah agar tamu yang datang mengucap salam hormat pada tuan rumah.

Menariknya, supaya bangunan kuat, dinding dan lantainya dipel dengan kotoran kerbau. “Sewaktu saya berkunjung ke sana, tuan rumahnya secara santun menyuruh saya mengepel pakai kotoran kerbau yang berwarna hijau. Anehnya tidak bau,” beber Astuty.

Namun secara santun pula Astaty menolak permintaan itu. “Saya mengatakan tidak bisa mengepel, karena menggunakan kotoran kerbau,” kenangnya. (ful)

Baca Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Minggu (13/8/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help