BanjarmasinPost/

Puisi Banjarmasin Post

Dahaga: Tegak Lurus dengan Arek Lancor

Maka, kubiarkan tubuh ini mengendarai malam Seperti penjual kopi, perlahan mulai mencemaskan pelanggan Barangkali inilah caraku meluruskan kerinduan

Dahaga: Tegak Lurus dengan Arek Lancor
Halaman 19 Harian Banjarmasin Post Edisi Minggu (13/8/2017) 

Karya: SUGIK MUHAMMAD SAHAR

Tegak Lurus dengan Arek Lancor

Maka, kubiarkan tubuh ini mengendarai malam
Seperti penjual kopi, perlahan mulai mencemaskan pelanggan
Barangkali inilah caraku meluruskan kerinduan
Di tugu arek lancor, ke arah jam sembilan

Kau di sana, aku di sini
Pohon tidak tumbuh tergesa-gesa, ucapmu
Aku tak tahu mana lebih sunyi
Dering telepon atau sajak-sajakku
Sebab, di sepertiga malam kau sanggup menubuh dengan waktu

Ada yang tak biasa malam ini
Tentang jejak petualangan yang makin samar
Hingga beberapa sketsa mimpi yang belum dirampungkan
Ternyata, tak ada yang lebih tabah dari kesendirian
Hanya di dalam kalbu

Perjumpaan kau dan aku terasa menggebu
Kemudian kita tak pernah menyangka
Jarak adalah batas kepastian
Sebelum kita melancor di tugu yang sama
Ar, Pukul 02.00 dini hari
Wajahmu makin tengelam ke dasar kopi

Sapi-sapi Pendosa

Mulanya adalah kerapan
Lalu jelma perjudian
Langit berlobang dibuatnya
Semoga itu cuma mimpi

Ada anak kecil, tak jelas asal sekolahnya
Menari-nari di atas kaleles
Sementara kemarau dan hujan bersekutu di punggung-punggung kota
Bung, barangkali di pelupuk mata sapi-sapi itu
Kau tak temukan lagi perkawinan angin 4 penjuru
Lantaran, di balik pangonong yang mengalungkan kesetiaan musim
Perayaan gubeng dan pasar malam melautkan segala

Tanah basah, rupiah melimpah
Dan di gerbang-gerbang kota, pamflet-pamflet dengan bahasa bercangkang
Lebih sakti dari celurit moyang

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help