BanjarmasinPost/

Meriam Peninggalan Belanda

NEWS ANALYSIS Pemerhati Sejarah Kalsel Mansyur: Itu Peninggalan Penjajah

Benteng itu didirikan persekutuan dagang Belanda atau Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) mulai 29 November 1635 dan diresmikan pada 1650.

NEWS ANALYSIS Pemerhati Sejarah Kalsel Mansyur: Itu Peninggalan Penjajah

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kawasan Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, yang menjadi lokasi penemuan meriam, mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Di kawasan yang dikelilingi sungai kecil dan bermuara di Sungai Martapura ini dulunya benteng Belanda. Pascakemerdekaan, Pulau Tatas dijadikan asrama tentara Indonesia dan kemudian dijadikan masjid.

Benteng itu didirikan persekutuan dagang Belanda atau Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) mulai 29 November 1635 dan diresmikan pada 1650. Pada Oktober 1756, berdasarkan perjanjian antara Sultan Banjermassin dan Johan Andreas Para Vinci, kepemilikan wilayah ini sempat beralih ke Inggris.

Pada 1786, Pulau Tatas kembali dikuasai VOC. Sementara itu di sekitarnya terdapat kampung-kampung yang dihuni oleh berbagai etnis.

Benteng ini terus mengalami perombakan hingga pada 1910 hampir tidak ada terlihat sebagai benteng. Walaupun demikian dalam beberapa foto masih terlihat ada meriam yang ditempatkan di sana.

Pascakemerdekaan yakni pada 1950-1981, kawasan ini dijadikan asrama tentara. Selanjutnya dibangunlah Masjid Raya Sabilal Muhtadin yang besar di situs Benteng Tatas. Sisa peninggalan Belanda yang bertahan sampai kini adalah sungai kecil yang mengelilingi kawasan masjid. Sungai itu dulunya parit benteng.

Sedang meriam yang ditemukan di kawasan tersebut umumnya adalah meriam penjajah Belanda. Salah satu ciri khas meriam Eropa adalah berukuran besar dengan panjang 100-300 sentimeter dan polos.
Kalaupun ada tanda sangat minim. Jadi dapat dipastikam meriam yang ditemukan itu bukan meriam pejuang Indonesia. Meriam lokal biasanya kecil dan berpasangan.

Diperkirakan masih terdapat peninggalan meriam di area tersebut. Ini karena pada awal 1900-an merupakan tempat gudang senjata.

Kendati meriam itu peninggalan penjajan Belanda, tentunya ini bagian dari sejarah yang harus diketahui generasi muda. (ell)

Baca Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Minggu (13/8/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help