BanjarmasinPost/

Popularitas Berlian

Penulis terkenal, Paulo Coelho (2017:1), dalam karyanya Seperti Sungai yang Mengalir, mengatakan bahwa hidupnya berada di

Popularitas Berlian
BPost cetak
Mujiburrahman 

OLEH: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Penulis terkenal, Paulo Coelho (2017:1), dalam karyanya Seperti Sungai yang Mengalir, mengatakan bahwa hidupnya berada di antara tiga bagian simfoni yang berbeda dan kadang tumpang tindih, yaitu bersama banyak orang, sedikit orang atau hampir tak bersama siapa pun.

Saya kira, Coelho tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi tentang kita semua. Paling kurang ketika di toilet dan kamar mandi, kita sendirian. Saat berdoa kepada Tuhan kita juga seringkali sendirian. Di rumah keluarga, kita bersama sedikit orang. Bercengkerama dengan para sahabat juga berarti bersama sedikit orang. Namun ketika di pasar, di tempat ibadah atau tempat hiburan, kita bersama banyak orang.

Manakah di antara tiga keadaan itu yang sejati atau otentik? Barangkali secara spontan orang berpikir bahwa kesendirian adalah diri kita yang otentik. Dalam kesendirian, manusia terdorong untuk menilai dirinya, arti hidup yang dijalaninya, serta membangun cita-cita dan impiannya. Dalam kesendirian, manusia tak perlu berpura-pura, karena dia adalah dia sebagaimana adanya, tak kurang, tak lebih.

Namun, saat sendiri dan menilai diri sendiri itu, manusia belum tentu bisa jujur dan apa adanya. Tak jarang, dalam kesendirian, orang terbawa arus deras perasaannya sendiri. Dia takut pada ketakutan yang dia khayalkan sendiri. Dia bangga dengan kebesaran yang diangankannya sendiri. Orang yang penuh dendam, benci dan curiga, hingga bunuh diri, adalah manusia yang ditelan oleh kesendiriannya.

Karena itu, manusia perlu orang lain sebagai cermin untuk melihat dirinya sendiri. Dia perlu berdialog, bertukar pikiran dan saling mengingatkan. Tak jarang orang lain lebih bisa melihat hal yang tak tampak oleh mata kita sendiri. Mereka terutama orang-orang dekat seperti keluarga inti dan guru-guru kita. Yang lebih penting lagi, kita perlu mengingat, merenung, memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Selain sedikit orang, kita tentu juga bertemu banyak orang yang sebagian besar tidak kita kenal dengan baik. Di kota-kota besar, tak jarang kita bertemu ribuan bahkan jutaan orang tak dikenal di jalan, pasar atau tempat ibadah. Kerumunan ini, sebagaimana kesendirian, juga bisa menenggelamkan kita. Dalam demonstrasi besar misalnya, kita bisa hanyut dalam emosi massa hingga perilaku kita tak terkendali.

Di sisi lain, ‘orang banyak’ itu menunjukkan kebesaran dan keagungan. Ini sebabnya tak sedikit orang yang ingin jadi tokoh pujaan dan idola masyarakat. Terkenal dan populer berarti dikagumi banyak orang. Orang menjadi terkenal karena adanya informasi tentang dirinya, baik dari mulut ke mulut ataupun liputan media.

Kini saluran untuk terkenal tidak lagi terbatas pada media jurnalistik. Media sosial merupakan sarana yang terbuka bagi tiap orang untuk menunjukkan dan memamerkan diri dengan mudah dan murah. Namun, di tengah banjir bah informasi unjuk diri itu, muncullah segelintir selebritas atau pesohor media sosial. Sebagian dari mereka memang sudah menjadi pesohor di media jurnalistik, sebagian lagi tidak.

Sebagaimana massa dapat menelan manusia sebagai pribadi, popularitas di media jurnalistik dan media sosial juga demikian. Tak jarang, orang tidak lagi bisa menjadi apa adanya, karena sudah terlanjur terkenal. Sangat mungkin pula, demi menjaga citra dan ketenaran, orang rela mengatakan atau melakukan apa saja yang diinginkan penggemarnya, meskipun hatinya berpendirian sebaliknya.

Di sinilah relevansi nasihat sufi terkemuka, Ibnu Athaillah (wafat. 1309 M) dalam Hikam: Idfan wujûdaka fi ardh al-khumûl. Famâ nabata mimma lam yudfan, layitimmu nitâjuh (Sembunyikanlah wujudmu di bumi yang sunyi. Biji yang tak dibenamkan di tanah, takkan tumbuh sempurna buahnya). Keikhlasan dan kesejatian berawal dari ketersembunyian, lalu berproses secara alamiah hingga muncul ke permukaan.

Dalam berproses itulah, seorang pribadi dibantu orang-orang dekat yang menyayanginya dan Tuhan yang merahmatinya, laksana bibit yang menerima siraman air dari petani yang menanamnya. Pohon yang tumbuh secara alamiah dari sebutir biji jauh lebih kokoh ketimbang pohon yang dipindahkan tanpa akar. Adapun berlian, ia tetaplah berlian, meskipun para pencemburu membenamkannya ke lumpur.

Namun, Anda tentu tahu, proses menjadi berlian itu tidak mudah! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help