BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Tersandera Kasus KTP El

Kematian Johannes Marliem, saksi kunci Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk kasus megakorupsi proyek KTP Elektronik

Tersandera Kasus KTP El
BPost Cetak
Ilustrasi 

TRAGEDI. Kematian Johannes Marliem, saksi kunci Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk kasus megakorupsi proyek KTP Elektronik jelas bukan sebuah tragedi biasa. Kematian bos Biomorf Lone LCC, perusahaan yang menyuplai perangkat KTP elektronik, itu dengan cara tidak lazim, menyisakan misteri.

Memang, belum ada kejelasan soal motif kematian Johannes dan aksi nekadnya menyandera anggota keluarganya. Los Angeles Police Departement (LAPD) Amerika Serikat, masih belum merilis hasil penyelidikan atas tragedi penyanderaan di kediaman Johannes, di kawasan Eidinburgh, Beverly Grove, Los Angeles, pada Jumat (11/8) lalu.

Bagi banyak pihak di negeri ini, sulit untuk tidak mengaitkan kematian Johanes dengan kasus yang menyeret-nyeret namanya dalam proyek KTP Elektronik (KTP El). Sebagai salah satu saksi kunci, Johannes memiliki banyak informasi praktik jahat pada proyek Kementerian Dalam Negeri tersebut. Paling tidak, Johannes memiliki data siapa saja penjahat klimis yang ‘bermain’ dan membancaki anggaran proyek KTP El hingga Rp 2 triliun lebih.

Itu sebabnya, mengapa kasus proyek KTP ini menjadi sangat menarik. Bisa dikatakan, kasus proyek KTP EL jauh lebih panas ketimbang kasus BLBI atau Century. Meski dari ukuran uang negara yang dikuras jauh lebih kecil dibanding dua kasus perbankan di atas, tapi kasus proyek KTP memiliki daya tarik kuat karena melibatkan banyak pesohor yang memiliki kedudukan penting di negeri ini.

Jadi jangan heran kalau kemudian publik menyaksikan reaksi para politisi di Senayan yang berlebihan terhadap KPK. Reaksi parlemen itu tidak bisa dinafikan karena memang terkait dugaan keterlibatan sejumlah politisi Senayan dalam megaproyek KTP El. Hasil penyelidikan KPK menyebut, triliunan rupiah kabarnya mengalir ke kantong sejumlah politisi Senayan.

Tidak aneh kalau kemudian para legislator menjadi sangat sensitif terhadap setiap gerakan KPK. Pembentukan pansus hak angket KPK adalah salah satu dari sensitifitas para politisi Senayan --yang diyakini publik untuk menghambat laju kasus proyek KTP El. Mereka berdalih pansus hak angket dibentuk untuk membenahi kinerja KPK. Namun publik melihat dari hari ke hari, sepak terjang pansus melenceng dari tujuannya.

Nah, itu pula sebabnya, kematian Johannes Marliem, tidak bisa dikatakan sebuah peristiwa biasa semata. Dengan kata lain, sulit untuk mengatakan bahwa seorang Johannes yang pengusaha terpelajar melakukan hal-hal konyol menyandera keluarganya sendiri, dan sengaja membiarkan dirinya dihabisi oleh polisi.

Dan, menarik beberapa saat sebelum tim SWAT LAPD menyambangi rumahnya, Johannes menumpahkan kegundahan bahwa dirinya merasa terancam atas kasus proyek KTP El yang membetot-betot namanya. Kita semua tahu kasus ini memang sarat dengan intrik mereka yang terlibat di dalamnya, baik langsung maupun tidak langsung.

Jadi, wajar kalau kemudian ada yang beranggapan kematian Johannes, pencabutan keterangan (BAP) salah satu tersangka KTP El di pengadilan, adalah bagian strategi pihak tertentu untuk melemahkan KPK.

Dalam kondisi seperti ini, kita mendorong KPK tetap bekerja cerdas dan secepatnya menuntaskan kasus megakorupsi KTP El. Setidaknya publik akan menyaksikan bagaimana jika benar-benar rombongan parlemen telah tersandera oleh kasus tersebut. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help