Berita HST

Warga Minta Rompi Antipeluru untuk Dampingi Polair Patroli Ilegal Fishing, Ini Alasannya

Sejak ditempatkan Pos Polisi Air (Polair) di desa tersebut, warga Pokwasmas menyatakan sering diminta anggota Polair mendampingi kegiatan patroli.

Warga Minta Rompi Antipeluru untuk Dampingi Polair Patroli Ilegal Fishing, Ini Alasannya
banjarmasinpost.co.id/aprianto
Ilustrasi- Razia penyetrum ikan di kawasan Kandangan HSS 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Warga Desa Kayu Rabah, Kecamatan Pandawan, Hulu Sungai Tengah menyatakan sangat mendukung pemberantasan illegal fishing atau penangkapan ikan secara ilegal dengan cara menyetrum.

Desa yang merupakan salah satu lumbung ikan di kabupaten ini pun telah membentuk kelompok pengawas masyarakat (Pokwasmas) Perikanan di salah satu perairan rawa-rawa di HST.

Sejak ditempatkan Pos Polisi Air (Polair) di desa tersebut, warga Pokwasmas menyatakan sering diminta anggota Polair mendampingi kegiatan patroli.

Bahkan, jika tak didampingi, anggota Polair tak bisa melakukan patrol, karena mereka tak hapal medan. Permasalahannya, patroli di perairan desa tersebut, sampai batas Danau Bangkau yang memang rawan.

“Sejak ada kasus penembakan pakai senjata api rakitan terhadap pencari ikan dari Kandangan dulu, kami merasa waswas. Jika anggota Polair yang kami damping pakai rompi antipeluru, sedangkan kami tidak. Padahal posisi kami berada di depan, sebagai pengemudi perahu,” kata M Hasan, satu anggota Pokwasmas Kayu Rabah saat pertemuan dengan Wabup HST HA
CHairansyah dengan masyarakat Kayu Rabah, beberapa waktu lalu.

“Terus terang, apa yang kami lakukan itu sangat rawan. Mohon perhatian dan perlindungan terhadap kami, yang sering sekali mendapat teror dari pihak penyetrum,” kata Hasan.

Menurutnya, masyarakat Kayu Rabah mayoritas menolak menangkap ikan dengan cara ilegal, karena merugikan mereka, dari sisi sumber mata pencaharian. Namun, untuk memberantas illegal fishing itu, masyarakat pun membutuhkan dukungan dan perlidungan.

Wabup HST HA Chairansyah menyatakan, apa yang disampaikan warga menjadi catatan pemkab untuk berupaya direalisasikan. Apalagi, topik illegal fishing, masuk dalam Rakorbang. Termasuk untuk pengadaan kapal untuk patroli.

Anggota Ditpolair Polda Kalsel yang bertugas di Kecamatan Labuanamas Selatan, Utara dan Pandawan, Bripka Herlambang menyatakan, saat ini, ada empat anggota Satpolair yang ditugaskan di wilayah perairan HST.

Jumlah tersebut, kata dia belum sebanding dengan luasnya perairan yang diawasi, sehingga memerlukan partisipasi dan kerjasama masyarakat untuk memberantas illegal fishing.

“Mengenai kasus penembakan warga Kandangan yang sedang mencari ikan secara tradisional beberapa waktu lalu, kami masih dalam penyelidikan,” kata Herlambang.

Menurutnya, jika pelaku orangnya ditemukan, akan ditindak tegas. Untuk itu dia meminta warga bersama-sama melawan pelaku illegal fishing.

“Mereka memiliki senjata api tanpa izin itu tindak pidana. Ancaman hukuman terberatnya hukuman mati,” kata Herlambang. (han)

Baca Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Senin (14/8/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved