Kolom Dahaga BPost

"Di Sebuah Kursi di Ruang Tamu", Karya Abdullah Salim

Sebatang rokok yang kau sesapi belum juga tuntas. Aku menunggumu. Di sini. Persis berada di sampingmu. Ya, di sini, di sampingmu.

dokumen
Banjarmasin Post edisi Minggu (27/8/2017) 

Oleh: ABDULLAH SALIM DALIMUNTHE

Sebatang rokok yang kau sesapi belum juga tuntas. Aku menunggumu. Di sini. Persis berada di sampingmu. Ya, di sini, di sampingmu. Namun tak jua kau merasakan hadirku. Mungkin karena kau memang tak pernah peduli. Sama sekali tidak pernah peduli. Kau memang selalu seperti itu, tak pernah peduli. Terlebih, sekarang, aku hanyalah sesosok hantu bagimu. Tidak berarti apa-apa.

***

Malam ini, tepat tiga puluh hari sebelum malam celaka itu--meski sebenarnya malam itu adalah malam yang paling kunanti-nantikan selama 3 tahun hidup bersamamu. Aku menunggumu. Di sini. Di sebuah kursi di ruang tamu. Seperti biasa, seperti malam-malam sebelumnya, kau selalu larut. Bahkan seringkali tak pulang berhari-hari. Kau terlalu sibuk dengan segala ambisimu. Dan bodohnya aku, masih tetap menungguimu. Di sini. Di sebuah kursi di ruang tamu.

“Kenapa kau tidak tidur saja di kamar?”

“Aku takut tak bisa mendengar suara ketukan pintu.”

“Aku tidak akan mengetuk, aku membawa kunci serep.”

“Bukan ketukanmu.”

“Lantas?”

“Ketukan orang lain yang akan mengabarkan kematianmu padaku.”

Halaman
123
Penulis: Didik Trio
Editor: Didik Trio
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved