Info Hajo

Khutbah Wukuf dari Arafah

Marilah kita senantiasa berusaha untuk meningkatkan takwa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar hidup ini menjadi semakin berkualitas bagi diri

Khutbah Wukuf dari Arafah
Kemenag.go.id
Jemaah haji Indonesia di Arafah. Musim haji 2017 

Pada akhirnya, kita semuanya hanya membawa selembar kain kafan untuk menghadap Ilahi dan pada saat ini kita diajarkan tentang kesadaran terhadap hal ini.Terhadap kematian yang sering kita takutkan atau kita lupakan atau pura-pura lupa dan tidak mau mengingatnya. Kita dibiasakan untuk meningkatkan ketundukan pada kehendak Allah, menekan ego masing-masing dan membiasakan diri untuk hidup apa adanya, bukan hidup apa-apa ada dari sumber yang tidak jelas asal-usulnya.

Kita diminta sebanyak-banyaknya berzikir mengingat Allah agar hati menjadi tenang, damai, khusyu’, dan itulah sesungguhnyapuncak kebahagiaan sejati manusia tatkala diri ini merasa begitu dekat kepada Allah, selalu mengingat-Nya dalam setiap situasi dan akhirnya mampu berakhlak dengan akhlak Allah (takhallaqu bi-akhlaaqillah) yang terrefleksikan dalam perilaku sehari-hari yang santun, taat pada aturan dan berakhlak mulia dengan sesamanya. Ketenangan jiwa tersebut sesungguhnyadapat dicapai melalui zikir sebagaimana firman-Nya:

Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hari mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.

Berzikir untuk menyadari betapa kita ini kecil dan bukan apa-apa di depan kemahakuasaan Allah Rabbul Izati. Menegaskan kembali akan keagungan-Nya seraya menyambut panggilannya untuk berhaji Labbai Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syarika lak.Kita datang dari tempat yang jauh dari segenap penjuru, ribuan kilometer kita tempuh dengan segala suka dan duka dan antrian panjang kita tunggui dengan penuh kesabaran.Kini saatnya kita berada di puncak ibadah haji di sini. Sepantasnyalah kita jadikan hari ini sebagai momentum untuk melakukan tranformasi diri menjadi orang yang lebih menghayati makna ibadah yang kita lakukan, bertekad untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan berjanji untuk tidak melakukan kesalahan di masa yang akan datang.

Kita istighfar minta ampun kepada Allah dari segala khilaf dan dosa yang kita lakukan, sadar bahwa selama menjalani hidup tak akan luput dari perbuatan salah dan dosa, sering abai terhadap aturan dan lalai dalam beribadah kepadaNya. Hari Arafah inilah saat doakita didengar dan saat Allah mengampuni dosa kita.

Rasul bersabda: Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”

Suasana Arafah seperti sekarang ini juga sekaligus merupakan momentum terbaik bagi kita untuk muhasabah introspeksi tentang siapa kita, apa yang kita lakukan dan ke mana akhirnya ujung dari kehidupan ini. Al Quran menjawab pertanyaan ini melalui episode penciptaan yang merefleksikan apresiasi luar biasa atas entitas ciptaan-Nya yang memiliki keunggulan dibanding dengan ciptaan lainnya. Mari kita tengok episode penciptaan manusia yang digambarkan Al Quran surat Al Baqarah ayat 30:

Artinya:Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat “Aku hendak menjadikan khalifah bumi”. Mereka berkata “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan mensucikan namaMu”.Dia berfirman “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dalam ayat berikutnya Allah memberikan penegasan tentang entitas manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki keunggulan, yang memiliki kemampuan mengidentifikasi objek sekelilingnya dan bahkan melakukan penemuan atas hal-hal yang sebelumnya tak terketahui oleh banyak orang. Inilah kemampuan ilmiah manusia yang menjadi pembeda dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Namun demikian, di balik keunggulan itu ada kekuatan yang selalu membisik di kanan kiri kita untuk melencengkan manusia dari jalan kebenaran. Ini adalah miniatur manusia yang memiliki potensi untuk bertindak seperti hewan tak kenal belas kasihan melakukan kekerasan, intimidasi, dan tindakan-tindakan radikal karena ada kekuatan syaithoniyah yang akan menyesatkan manusia-manusia dari jalan yang benar.

Artinya: Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

Halaman
1234
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help