Info Hajo

Khutbah Wukuf dari Arafah

Marilah kita senantiasa berusaha untuk meningkatkan takwa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar hidup ini menjadi semakin berkualitas bagi diri

Khutbah Wukuf dari Arafah
Kemenag.go.id
Jemaah haji Indonesia di Arafah. Musim haji 2017 

Kadang kita menjadi terhenyak dan baru ingat akan Allah saat berada dalam kegalauan, berada dalam keterpurukan, berada dalam kondisi pailit dan lain-lain.

Ketiga, ketika kita tidak diperbolehkan untuk membunuh binatang, mencabut dan mematahkan tumbuhan, memberi isyarat kepadakita agar memiliki kesadaran terhadap ekologi dan ekosistem agar dapat hidup dengan keseimbangan saling memberi dan menerima secara harmonis.Allah memberikan anugerah alam seisinya dengan hukum-hukumnya (sunnatullah) yang tak pernah berubah, yakni hukum kesimbangan ekologi dan ekosistem yang harus dijaga karena manusia telah menyanggupi untuk mengemban amanah mengelola alam seisinya. Harus dilawan sikap merusak ekosistem dan ekologi yang akan menciptakan kerusakan di darat dan lautan. Hutan yang digunduli akan berakibat banjir, produksi karbondioksida akan menciptakan efek rumah kaca dan mengakibatkan fenomena pemanasan global. Tepatlah apa yang digambarkan Al Quran ketika menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut itu tersebab oleh ulah tangan manusia.

Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbautan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Keempat, ketika kita dilarang memakai pakaian berjahit memberikan makna agar kita hidup secara inklusif seperti pakaian yang dikenakan yang juga dipakai oleh banyak orang. Sikap ini sekaligus penegasan akan spirit Islam yang menjunjung tinggi spirit egaliter, persamaan hak dan derajat dalam kehidupan sehari-hari. Buang jauh-jauh kehendak untuk merasa dimiliki oleh banyak orang, superiority complex dan menganggap sesamanya dengan sebelah mata. Nabi dan para sahabat telah memberi contoh akan kehidupan yang penuh kesahajaan dan sangat kontras dengan penguasa sebelumnya yang mementingkan hierarkhi dan membuat jarak yang tak terjembatani dengan rakyatnya.

Kelima, ketika kita dilarang mencaci maki dan mengucapkan kata-kata kotor memberi pelajaran agar kita dapat bersikap santun kepadasesama manusia tanpa melihat latar belakang kelompok sosial dan agamanya. Surat Al Hujurat ayat 13 yang sering dikutip sebagai referensi untuk menjelaskan entitas manusia dan nilai-nilai perdamaian dalam Islam menyatakan:

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesunguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ungkapan khitab ayat ini yang dinyatakan dengan kata-kata ‘yaa ayyuhan-naas’ memberi pengertian Allah mengajak bicara manusia secara universal bahwa manusia diciptakan secara sosiologis menjadi berbangsa dan bersuku-suku untuk tujuan saling mengenal satu dengan sesamanya.Bukan untuk saling membunuh, bukan untuk saling konflik satu dengan lainnya, bukan untuk saling menghujat satu dengan lainnya. Ini semua dicontohkan oleh Rasulullah saw saat menata kehidupan yang bersifat konsolidasi internal pada periode Makkah hingga saat membuat negara Madinah yang bersinggungan dengan pihak kelompok lain yang beda agama.

Pemahaman terhadap esensi nilai-niali ibadah haji di balik yang tersurat, akan menambah kualitas diri khususnya setelah melaksanakan ibadah dan pulang ke Tanah Air. Oleh sebagian ulama hal ini dipandang sebagai tanda-tanda haji mabrur. Hasan Basri seorang ulama sufi abad delapan pernah menyatakan:

“Haji mabrur dapat dicapai jika pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat” dan tanda-tandanya adalah meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan sebelum haji.Dengan demikian harus ada perbaikan kualitas diri menjadi lebih baik dibanding dengan sebelum haji.

Ketika Eropa bersuara lantang karena telah melahirkan masa pencerahan (enlightment) di mana manusia dianggap telah menemukan jati dirinya sebagai manusia dengan pemikiran kemanusiaan, ketika acapkali Barat dianggap yang paling berjaya dalam urusan konsep kemanusiaan, ajaran tentang haji yang direfleksikan dalam puncak ibadah di Arafah ini telah memancangkan tonggak bagi kemanusiaan saat Nabi Khutbah Wada’ yang begitu menyentuh nilai-nilai kedamaian, menghargai sesama dan menumbuhkembangkan spirit kebersamaan. Kata-kata nabi begitu menyentuh nilai-nilai kemanusiaan, mengapresiasi persaudaraan dan perlindungan terhadap hak-hak orang lain.

Dhuyufurahman, yang dimuliakan Allah swt.

Hari Arafah seperti ini merupakan wahana training spiritual bagi kita semua yang seharusnya berdampak pada peningkatan kualitas diri setelah selesai dan pulang ke Tanah Air.Inilah yang oleh ulama dikatakan sebagai indikasi haji yang mabrur saat kembali dari Tanah Suci kelakuannya menjadi lebih baik dibanding masa sebelum haji.

Saat di Arafah juga mengajarkan pada kita agar terbiasa untuk menghadirkan Allah dalam diri kita masing-masing. Ketika di sini kita seakan lupa segalanya dan Allah hadir begitu dekat hendaknya akan terbawa pulang sebagai hamba yang mampu menghadirkan Allah dalam sikap dan perbuatan. Merasa selalu dekat denganNya sehingga mampu menjadi alat kontrol terhadap perbuatannya.Nabi mengingatkan kita melalui ajaran Ihsan yang merupakan tindak lanjut dari keimanan dan keislaman kita. Dengan kata lain, jika ingin kita dapat selalu istiqamah konsisten dalam sikap dan perilaku maka selain iman dan Islam dirasa perlu untuk melengkapinya dengan Ihsan. Ajaran Ihsan ini menjadikan diri ini merasa hidup dalam orbit Ilahi sehingga ke mana saja dan di mana saja serta dalam keadaaan apa saja selalu ingat Allah. Dia akan menjadi pengawas melekat pada diri sehingga mendorong untuk selalu berperilaku positif di mana saja, taat aturan meski tak ada polisi.

Suasana Arafah akan melahirkan cara beragama yang tidak berisi aneka fragman hidup tetapi melatih kita untuk berenang dalam samudra ilahi hidup serba ingat Tuhan. Dengan ungkapan lainmemberi penegasan agar masuk ke dalam Islam secara total.

Artinya: Hari orang-orang yang beriman, masuklah kami ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah Syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al Baqarah 108)

Sebagai akhir dari khutbah ini saya ingin menegaskan bahwa pada saat dan waktu yang hening dan sakral ini, kita hendaknya dapat muhasabah, untuk senantiasa meningatkan ketakwaan, menyadari tanggung jawab kemanusiaan kita, menghormati antar sesama, menjaga harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan senantiasa menyadari hak dan kewajiban kita, baik sebagai pemimpin maupun rakyat biasa. Revolusi mental untuk meneguhkan komitmen kebajikan antar sesama tanpa caci maki dan saling hina. Kita berharap agar rahmat, ridha dan ampunan Allah Swt tercurah kepada kita semua, kepada warga bangsa, kepada para pemimpin kita, dan seluruh kaum muslimin sedunia. Mudah-mudahan kita dikaruniai haji yang mabrur, kembali ke Tanah Air dalam keadaan bersih dan suci bagaikan anak yang baru lahir. (Kemenag)

Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved