Gaya Hidup

Kuliner, wisata, jualan, sampai bentuk usaha pun menyesuaikan. Ingin jualan tak perlu berebut lapak di pinggir-pinggir jalan,

Gaya Hidup
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

PERKEMBANGAN teknologi yang begitu cepat telah mengubah segala-galanya. Dunia terasa makin sempit, tak ada sekat, tak ada batasan waktu, informasi terus mengalir. Pendeknya semua berubah, muaranya gaya hidup pun berubah.

Kuliner, wisata, jualan, sampai bentuk usaha pun menyesuaikan. Ingin jualan tak perlu berebut lapak di pinggir-pinggir jalan, lewat internet pembeli akan datang atau memesan. Tukang ojek yang dulu hanya dilihat sebelah mata, dengan ojek aplikasi sekarang naik derajatnya karena ikut menjadi bagian dari gaya hidup baru. Antar paket, pesan tiket bioskop, beli makanan sudah menjadi bagian dari pekerjaan mereka, jadi tidak hanya menunggu penumpang di pos-pos ojek yang biasa dibikin di trotoar.

Bukan hanya itu, informasi yang mengalir 24 jam lewat gadget yang bisa dibawa ke manapun sampai tempat tidur telah merobohkan mitos media khususnya cetak yang sudah hidup ratusan tahun. Banyak koran ambruk kalah bersaing dengan media sosial, sehingga harus membuat back up dengan membuka website atau e-paper.

Pemerintah pun kini harus mengubah pola kerjanya. Kalau dulu anggaran lebih banyak diserap untuk biaya rutin, gaji pegawai, sekarang untuk membangun infrastruktur. Bayangkan seandainya Presiden Joko Widodo tidak mencanangkan pembangunan infrastruktur besar-besaran, jutaan orang akan kesulitan melakukan perjalanan, bandara akan jadi seperti pasar, pelabuhan akan semakin padat. Sekarang jalan tol atau nontol di seluruh Indonesia dibangun, bandara, pelabuhan ada di mana-mana. Kalau saja cara kerjanya masih seperti dulu, nggak ada greget, niscaya aktivitas bakal mandek.

Situasi seperti ini memberi peluang kepada mereka yang kreatif untuk mengambil peran. Ekonomi kreatif memang menjadi salah satu bidikan pemerintah karena berperan dalam meningkatkan ekonomi rakyat. Tayangan tentang kuliner, orang-orang kampung yang sukses di kota menunjukkan betapa luasnya bidang yang bisa digarap.

Mereka yang sukses kini bisa membentuk kelas sendiri. Mereka rata-rata naik mobil. Mobil murah paling laku. Ratusan merk kini berlalu lalang, jalanan sampai macet, berebut tempat dengan motor yang sudah tak terbilang jumlahnya. Tanpa uang muka orang bisa bawa pulang motor bahkan mobil sehingga tak jarang orang tiba-tiba berubah hidupnya. Dengan motor bisa makan daging, dengan mobil makannya jadi tahu tempe, maklum cicilannya lebih mahal.

Kalangan kelas tinggi semakin wah lagi gaya hidupnya. Misalnya para profesional muda dan selebriti. Mereka menunjukkan kelasnya lewat rumah mewah, mobil mewah atau pelesirannya ke luar negeri. Contohnya pasangan suami istri Andika-Aniesa yang sukses membangun kerajaan bisnis perjalanan umrah First Travel yang omzetnya ratusan miliar rupiah. Sayang ia terjerat kasus penipuan terhadap calon jemaahnya.

***

Mobil-mobil mewah seperti Lamborgini, Ferrari, Range Rover, Mercedes Benz, Hummer dan Porsche Cayman adalah koleksi mereka. Harganya milyaran, pajaknya ratusan juta/tahun/mobil.

Sejumlah artis dan pesohor lain termasuk penggemar mobil mewah. Sayang banyak yang menunggak pajak, seperti Raffi Ahmad, Syahrini, Tukul Arwana, Roro Fitria, Hotma Sitompiul, Bella Sofhie, Ahmad Dhani, Deddy Corbuzier, Hotman Paris Hutapea, Gading Martin (Kompas 23 Agustus 2017).

Beberapa artis yang diwawancara televisi seperti Raffi Ahmad, Gading Martin dan pengacara Hotman Paris mengatakan, mereka sudah bayar pajak, tidak ada yang menunggak. Mungkin benar sesuai yang tertera dalam surat-surat kendaraan. Sebab sekarang banyak pemilik kendaraan yang menggunakan nama orang lain untuk menghindari pajak progresif (berganda) bagi kendaraan kedua, ketiga dan seterusnya.

Itulah perilaku orang kaya di kota, mereka bisa beli mobil tapi kikir bayar pajaknya. Ini mencerminkan jiwa kedermawanan mereka yang tidak mau berbagi. Tak sedikit mobil mewah yang tidak terdaftar berseliweran di Jakarta. Seperti Lamborgini yang pernah dipakai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Haji Lulung Lunggana, yang kini tak nampak lagi karena diramaikan media sosial yang memergoki Lamborgini bodong tanpa nomor polisi nongkrong di Kantor DPRD DKI.

Bisnis baru yang ndompleng gaya hidup adalah jualan kabar bohong (hoax), kebencian dan Sara yang disebar lewat internet. Mereka bekerja sesuai pesanan, setiap proposal bisa berharga puluhan juta rupiah. Isinya menjelekkan orang atau tokoh. Sasarannya pilkada 2018 tapi bisa juga sampai Pemilu/Pilpres 2019.

Itulah gaya hidup manusia Indonesia saat ini, teknologi di tangan, penampilan OK tapi tanggung jawabnya gersang. (*)

Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved