BanjarmasinPost/

Perjalanan (Haji) Kita

Dalam percakapan di atas, Palui mewakili kelas bawah yang secara ekonomi tidak mampu melaksanakan ibadah haji.

Perjalanan (Haji) Kita
BPost cetak
Mujiburrahman 

OLEH: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

“Aduuh, panas sekali hari ini. Rasanya seperti di sana,” kata Palui. “Maksudmu, di sana itu di Makkah?” tanya Garbus. “Bukan di Makkah, tapi di Alabio,” jelas Palui yang langsung disambut gelak tawa kawan-kawannya.

Dalam percakapan di atas, Palui mewakili kelas bawah yang secara ekonomi tidak mampu melaksanakan ibadah haji. Palui sering merasa tersisih ketika orang yang baru datang dari ibadah haji dengan bangga bertanding cerita tentang pengalamannya dengan para haji lain di kampungnya. “Rasanya seperti di sana” adalah ungkapan para haji yang bangga itu, yang dipinjam Palui untuk mengejek mereka.

Banyak orang yang senasib dengan Palui. Apakah mereka harus merasa tersisih? Apakah ibadah haji tak lebih dari kebanggaan dengan titel ‘haji dan hajah’ serta cerita pengalaman internasional di Arab Saudi? Tentu saja tidak! Kaum Sufi seringkali mengingatkan bahwa ibadah haji sebenarnya adalah simbol-simbol perjalanan manusia menuju Allah. Jika hakikat ini dilupakan, hajinya akan sia-sia belaka.

Ibadah haji merupakan salah satu ritual dalam Islam yang membantu manusia keluar dari cengkeraman rutinitas keseharian. Setiap hari kita bangun tidur, bekerja, makan dan minum, mandi dan tidur. Semua ini berjalan seperti biasa sehingga kita lupa merenungkan hakikat perjalanan hidup kita. Ibadah haji merupakan metode untuk mengingatkan manusia pada makna dan tujuan hidupnya yang hakiki itu.

Dalam bahasa Arab, kata ‘hajj’ artinya menuju sesuatu yang agung. Kakbah di Makkah, yang merupakan fokus arah dari ibadah salat kaum Muslim di seluruh dunia, juga merupakan pusat ibadah haji ketika pelaksanaan tawaf. Tetapi ka’bah bukanlah Tuhan yang disembah. Kakbah hanyalah simbol. Ritual haji lainnya seperti berihram, sai, wukuf di Arafah dan melontar, adalah simbol-simbol juga.

Sudah cukup banyak penjelasan para ulama mengenai makna simbolik ritual-ritual haji itu. Namun di dalam Alquran, ada satu ayat yang secara tegas menyebutkan makna hakiki ibadah haji, yaitu bahwa orang dilarang berkata-kata kotor (rafast), berbuat fasiq dan bertengkar. Kemudian ditegaskan pula, dalam perjalanan haji, orang harus membawa bekal. Tetapi bekal terbaik adalah takwa (QS 2:197).

Jika ibadah haji merupakan perlambang dari perjalanan menuju Tuhan, maka larangan berkata kotor, berbuat fasiq dan bertengkar merupakan syarat penting agar manusia tidak tersesat di jalan. Ini artinya, manusia harus menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama manusia. Ini tentu tidak mudah. Dalam perjalanan hidupnya, manusia sering menghadapi aneka godaan yang dapat menjerumuskannya.

Bukankah kata-kata kotor dan berbantah-bantahan semakin ramai di era ponsel ini? Alih-alih digunakan untuk kebaikan, sebagian orang menjadikan media sosial sebagai sarana mengumbar kata-kata kasar dan ujaran kebencian. Bahkan ada yang menjual berita palsu untuk kepentingan ekonomi dan politik. Dia tidak peduli jika masyarakat saling membenci bahkan saling membunuh akibat perbuatannya itu.

Orang menjadi suka berkata-kata kotor dan berbantah-bantahan akibat dikuasai hawa nafsu. Nafsu yang tak terkendali akan membuat manusia fasiq, yakni maksiat kepada Allah. Nafsu kelamin menggiringnya ke perzinahan. Nafsu perut membuatnya serakah. Nafsu amarah membuatnya sewenang-wenang dan menindas orang yang lemah. Perjalanannya menuju Tuhan akan tersesat akibat ulah nafsu ini.

Karena itu, bekal terbaik dalam perjalanan adalah takwa. Kata taqwâ seakar dengan kata waqâ dan wiqâyah artinya menjaga. Yang dimaksud adalah menjaga diri dari kejatuhan moral akibat nafsu yang tak terkendali. Agar nafsu terkendali, orang harus ingat bahwa tujuan akhir dari perjalanan hidup adalah Tuhan, yang hanya bisa dicapai dengan melaksanakan segala kebaikan yang diajarkan-Nya.

Alhasil, seringkali kesibukan membuat kita lupa merenungkan untuk apa hidup ini dijalani. Hidup seolah mengalir tanpa makna. Kita tenggelam dalam rutinitas tanpa tujuan yang agung. Padahal, tiap-tiap kita pada hakikatnya sedang berhaji, yakni berjalan menuju kepada-Nya. Kelak di ujung perjalanan itu, ada yang diterima-Nya dengan suka cita (mabrûr) dan ada pula yang ditolak-Nya dengan murka (mardûd). (*)

Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help