BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Selamat Jalan Siti

Untuk ukuran Maswi yang masih berusia 12 tahun, tentu kita membayangkan betapa cekatannya dia mengurus segala sesuatunya

Selamat Jalan Siti
BPost Cetak
Ilustrasi 

Tubuh kecil ringkih itu tergeletak tak bergerak..
Sel-sel kanker itu akhirnya benar-benar menyudahi penderitaan Siti Fatimah.
Adikku, kamu masih terlampau muda meninggalkan dunia fana ini.
Masih banyak yang belum kamu sempat kecap dalam hidup ini...
Tapi, tidak apa adikku; Kamu tidak perlu semua itu. Kamu jauh lebih berbahagia saat ini dibanding semua kenikmatan dunia...
Karena kamu kini telah berada di Surga di keliling bidadari cantik...
Adikku kamu telah membukakan mata banyak orang.....
Kamu begitu begitu tegar dan sabar dalam menghadapi penyakit mematikan....
Kamu pun telah menghadirkan kehibaan yang tidak pernah kamu rencanakan....
Kamu masih bisa tersenyum, meski terasa sangat terpaksa kamu perlihatkan...
Adikku Siti, kini kamu telah bebas dan menjadi gadis kecil cantik yang dijaga oleh para bidadari.
Selamat jalan adikku......

SABTU Sabtu (2/9), Siti Fatimah bocah penderita kanker darah dan kanker tulang, akhirnya meninggal dunia dalam perawatan di RSUD Ulin Banjarmasin. Selama sebulan lebih, Siti menjalani perawatan hanya ditemani sang kakak, Maswi, yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Cerita Siti dan Maswi, telah memberi pelajaran penting kepada kita semua akan arti ketulusan cinta kakak terhadap adik.

Kita tentu tidak pernah bisa membayangkan, seorang Maswi, bocah lugu dari sebuah desa di Kabupaten Balangan, mengurus adiknya yang menderita penyakit mematikan. Kata hero, bisa kita sematkan kepada Maswi, karena segalanya dia urus sendiri mulai soal administrasi di rumah sakit yang biasanya sangat ribet, hingga pascaperawatan di rumah sakit.

Bahkan, Maswi harus bolak-balik rumah sakit ke kantor Palang Merah Indonesia (PMI) mengambil darah untuk adiknya.

Untuk ukuran Maswi yang masih berusia 12 tahun, tentu kita membayangkan betapa cekatannya dia mengurus segala sesuatunya dengan keluguan seorang bocah. Dan, memang hanya satu keinginan Maswi, yakni agar adiknya bisa sembuh dan kembali bisa ke sekolah dan bermain bersamanya.

Kehidupan yang dijalani Maswi dan Siti Fatimah telah menjadi sebuah inspirasi bagi kita semua. Kedua orangtuanya tidak bisa berbuat apa-apa karena mengajalani gangguan kejiwaan. Dan, satu-satunya harapan adalah pada Maswi untuk bisa mengobati sang adik yang menderita penyakit mematikan.

Dan, dari cerita Maswi ini pun telah melahirkan solidaritas dan kesetikawanan sosial banyak pihak. Tentunya, donasi yang diperoleh Maswi sangat tidak sebandingdengan kehilangan adik yang disayanginya. Setidaknya, dari cerita Maswi-Siti Fatimah bisa menjadi pelajaran berharga kepada kita semua. Bahwa dalam kehidupan saat ini yang semakin hedonism, ketulusan cinta dalam keluarga masih menjadi bagian terpenting dalam mengatasi setiap persoalan keduniawian. (*)

Editor: Dheny Irwan Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help