BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Membantu Rohingya

Memang, ada sejumlah foto hoax yang makin memanaskan suasana, mengenai aksi penindasan terhadap Rohingya. Tapi bukan berarti

Membantu Rohingya
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

PERHATIAN dunia kini tertuju ke Myanmar saat 400 orang etnis Muslim Rohingya bahkan lebih tewas dan sekitar 38 ribu lainnya mengungsi ke Bangladesh dan negara-negara sekitar menyusul aksi kekerasan yang dilakukan militer Myanmar.

Solidaritas dari saudara-saudara Muslim pun muncul, bahkan dari Turki, termasuk dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, dan Indonesia. Imbas peristiwa ini makin lebar ketika muncul gerakan solidaritas di dunia maya yang mengecam keras aksi militer Myanmar tersebut. Berbagai foto kekejaman militer Myanmar pun tersebar sedemikian vulgar.

Memang, ada sejumlah foto hoax yang makin memanaskan suasana, mengenai aksi penindasan terhadap Rohingya. Tapi bukan berarti, peristiwa itu tidak ada (palsu).

Praktis tak ada pro ataupun kontra dalam kasus ini, karena semua menempatkan Rohingya sebagai korban. Yang berbeda kemudian adalah bagaimana menyikapi dan cara membantu Rohingya lepas dari masalah ini.

Bagaimana pula pemerintah Indonesia harus bersikap? Faktor inilah yang penting untuk saat ini sebagai solusi jangka pendek atas kasus Rohingnya yang mengalami eskalasi kasus di 2013, 2015 dan 2017 ini.

Menlu Retno Marsudi pun terus melakukan komunikasi dengan National Security Advisor Myanmar Amb U Thaung Tun, Menlu Bangladesh Mahmood Ali, dan mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, yang Menjadi Ketua Advisory Commission on Rakhine State. Komunikasi dan koordinasi tersebut bertujuan untuk mengetahui situasi di lapangan dan upaya yang dapat dilakukan untuk tangani bantuan kemanusiaan.

Menlu Retno meluncurkan Program Humanitarian Assistance for Sustainable Community (HASCO) untuk Myanmar. Program tersebut merupakan komitmen dari 11 (sebelas) LSM tergabung dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM). Tujuannya memberi bantuan jangka menengah dan panjang bagi rakyat Rakhine State dari donasi masyarakat Indonesia.

Sebagai langkah awal, jelang pertemuan Menlu dengan tokoh Myanmar Aung San Suu Kyi, aksi ini tak bakal memiliki daya tekan bila tidak ditindakanjuti langkah nyata. Embargo ataupun sanksi ekonomi, bisa dilakukan melihat masifnya aksi militer Myanmar terhadap Rohingnya. Bahkan dengan pelibatan PBB penggunaan kekerasan bisa dilakukan untuk membantu Rohingnya.

Secara personal, tekanan juga bisa dilakukan terhadap tokoh Myanmar Aung San Suu Kyi. Dengan atribut yang dimiliki sebagai tokoh perdamaian dan HAM, alangkah naifnya bila kini tokoh perempuan ini tutup mata.

Suu Kyi meraih Nobel perdamaian pada 1991 karena dianggap memilih ‘revolusi damai dan bijaksana’ dalam melawan junta militer Myanmar. Lalu 2012, Suu Kyi meraih Havel Prize, sebuah penghargaan hak asasi manusia untuk keberaniannya meneriakkan HAM. Tapi semua itu tak berarti lagi saat ia diam melihat pembantian di depan matanya.

Bicara Rohingya bisa diambil dari sejumlah pendekatan, baik sejarah, sosial, religi, maupun politik antarnegara. Tapi prinsip bahwa ada unsur kemanusiaan yang tercederai, tetap harus diutamakan.

Mengambil dari tagline yang beredar di dunia maya, “tak perlu menjadi muslim untuk peduli Rohingnya, cukup menjadi manusia agar peduli penderitaan mereka,” rasanya pas dengan kondisi saat ini. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help