Ya Ampun Kakek Dari Amuntai Ini Tinggal di Tengah Hutan Hauling, Kutai Kartanegara

Di dalam rimbunnya hutan Hauling di area pertambangan Desa Jembayan, Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, ada sosok kakek yang tinggal

Ya Ampun Kakek Dari Amuntai Ini Tinggal di Tengah Hutan Hauling, Kutai Kartanegara
facebook
Di dalam rimbunnya hutan Hauling di area pertambangan Desa Jembayan, Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, ada sosok kakek yang tinggal seorang diri di tengah hutan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Di dalam rimbunnya hutan Hauling di area pertambangan Desa Jembayan, Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, ada sosok kakek yang tinggal seorang diri di tengah hutan.

Gubuk kayu yang ditutupi dengan terpal dan sobekan bekas alas lantai menutupi gubuk kakek yang diketahui berasal dari Amuntai ini.

kakek
kakek (facebook)

Berdasarkan cerita akun facebook Wiyanto Lesmana, kakek yang sudah berusia 80 tahun ini menderita kaki gajah. Dengan keterbatasannya, ia tak bisa berjalan, hanya menggeserkan bagian tubuhnya.

Kabar tentang kakek dari Amuntai ini masih simpang siur. Ada yang mengatakan si kakek enggan untuk dipindahkan ke hunian yang layak.

Ada pula yang mengungkapkan jika kakek ini terlihat berpindah-pindah.

Sementara menurut penjelasan kakek tersebut, enggan berpindah karena merawat kebun pisangnya. Meski lahan tersebut diketahui bukan atas kepemilikan namanya.

"Tak bakal ada yang menyangka di balik rimbunnya hutan jalan Hauling di salah satu area pertambangan Desa Jembayan, Loa Kulu, Kutai Kartanegara, ada seorang kakek yang tinggal di sebuah gubuk yang sangat jauh dari kata layak untuk dihuni.

kakek
kakek (facebook)

Beliau berumur 80 tahun. Berasal dari Amuntai, sempat menetap di Loa Tebu sebelum akhirnya tinggal di tempatnya yang sekarang ini dihuninya sejak 2 tahun terakhir. Penyakit kaki gajah yang dideritanya memaksanya harus berjalan dengan mengesot.

Kondisi gubuknya sangat memprihatinkan. Berukuran sangat-sangat kecil, beratap seng dan rangka potongan kayu. Sehari-harinya kakek ini bertahan hidup dari berjualan pisang yang tumbuh diseputaran gubuk reotnya. Terkadang warga atau karyawan perusahaan tambang di sekitar tempat tinggalnya turut memberikan makanan untuk sang kakek.

Menurut informasi warga, kakek ini berkali-kali diajak pindah ke tempat lain yang lebih layak namun menolak. Tawaran untuk berobat pun tidak diterimanya. Beliau ingin tetap berada di sana, "menjaga" kebun pisangnya.

Saya dan beberapa rekan sore tadi meninjau langsung ke lokasi dengan membawa serta beberapa kebutuhan pokok untuk si kakek. Dikuatirkan gubuknya semakin sempit maka barang-barang tersebut saya titipkan kepada mas Irvan dan rekan-rekannya dari PT. ABP Energy untuk bisa disimpan, dikelola dan diberikan secara berkala untuk si kakek. Terima kasih banyak juga sudah mendampingi kami selama berada di lokasi.

kakek
kakek (facebook)

Terkait gubuk yang tidak layak huni tersebut saya sudah berdiskusi dengan mas Irvan dan kawan-kawan agar bisa dibuatkan yang lebih layak. Namun harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemilik lahan.

Untuk pemerintah setempat, dalam hal ini wilayah Desa Jembayan, Loa Kulu, Kutai Kartanegara, dimohon agar kakek ini bisa dibantu pengobatan atas penyakit kaki gajah yang dideritanya dan juga relokasi tempat tinggal yang lebih layak untuk dihuni. Sudah sepatutnya manula dengan kondisi memprihatinkan seperti ini mendapatkan perhatian khusus".

Kisah kakek ini menjadi viral usai dibagikan 893 akun dan 600 komentar lebih.
Shulies Thianii, "Ya allah kasian nya...kmn anak anak nya ya,gak tega liat nya

Penulis: Restudia
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved