BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Tajuk

Riuhnya Penerimaan ASN

Saat hari pengumuman, situs yang menyajikan pengumuman tersebut sempat down dan gagal diakses.

Riuhnya Penerimaan ASN
BPost Cetak
Tajuk Bpost 

LAGI, pemerintah membuka lowongan bagi calon Aparatur Sipil Negara (ASN) batch II. Ada 17.928 formasi pada 60 kementerian/lembaga (K/L) dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, yang ditawarkan.

Sehari sebelumnya, para pelamar yang memenuhi syarat mengikuti seleksi calon ASN Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) dan Mahkamah Agung (MA), telah diumumkan.

Saat hari pengumuman, situs yang menyajikan pengumuman tersebut sempat down dan gagal diakses. Bukan lantaran rusak, tapi karena pengakses melebihi kapasitas server. Maklum, ada 1,1 juta orang yang memperbutkan lebih dari 17.500 formasi, ingin sesegera mungkin mengetahui nasibnya.

Berdasarkan data itu, rata-rata satu formasi yang ditawarkan Kemenkum HAM dan MA harus diperebutkan 62 orang. Atau, probabiliti masing-masing peserta hanyalah 1,6 persen. Sungguh persaingan yang ketat, dan memberikan kesan pada kita semua bahwa peminat pegawai negara alias ASN masihlah sangat tinggi.

Tingginya minat untuk menjadi pegawai negara, bisa jadi karena sebagian warga masih menganggap pekerjaan itu bisa menaikkan status sosialnya. Sebagaimana di zaman kolonial, yang menyebut para pegawai negara sebagai ambtenaar, sedangkan rakyat jelata yang miskin adalah para inlander.

Selain soal status sosial, sebagian pihak meyakini bahwa menjadi ASN punya kepastian ekonomi, karena gaji mereka lebih dari Upah Minimum Provinsi (UMP), gaji selalu naik setiap tahun dan saat sudah tak lagi bekerja masih menerima uang pensiun.

Karena dua tujuan itulah (selain ada tujuan-tujuan yang lain), membuat sebagia warga negara melakukan beragam upaya untuk dapat diterima sebagai pegawai negara. Para peserta yang terlalu khawatir ‘tidak bisa menjadi priyayi’, akan rela melakukan apa saja, termasuk menyuap.

Situasi ini bila tidak diimbangi sistem yang benar-benar (sekali lagi, benar-benar) terbuka serta jujur, akan merontokkan iman para pengelola penerimaan ASN untuk kemudian berpura-pura bisa ‘bermain sulap’ untuk meloloskannya.

Sudah terlalu riuh cerita tentang orang yang pura-pura punya kuasa, kemudian melarikan diri sambil membawa ratusan juta bahkan miliaran rupiah uang yang disetor para pihak yang bernafsu menjadi priyayi.

Karena itu, para calon peserta ujian masuk ASN, harus mulai menata orientasi. Bila orientasi menjadi pegawai negara hanya menjadi terhormat dan kaya, maka secara mudah akan tergiur mengeluarkan uang, seberapapun besarnya. Karena ketika sudah menjadi ASN, mereka merasa yakin bisa mengembalikan ‘modal suap’ dalam waktu tertentu.

Namun, bila orientasi mereka untuk bekerja sambil menyadari jumlah gaji yang diterimanya sama dengan atau bahkan lebih kecil dibanding mereka yang bekerja di perusahaan swasta, maka mereka tidak perlu terlalu bernafsu menjadi buruh negara hingga harus mengeluarkan uang untuk menyuap. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help