BanjarmasinPost/
Home »

Kolom

» Spirit

Jatuh Tertimpa Tangga

PEPATAH di atas mungkin tepat untuk penyidik senior Novel Baswedan yang saat ini mendapatkan perawatan mata di Singapura

Jatuh Tertimpa Tangga
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

PEPATAH di atas mungkin tepat untuk penyidik senior Novel Baswedan yang saat ini mendapatkan perawatan mata di Singapura akibat siraman air keras. Penyiraman dilakukan 11 April 2017, tapi sampai saat ini pelakunya belum tertangkap. Sebaliknya dia malah dilaporkan oleh polisi dalam dua kasus kejahatan. Yang pertama oleh Brigjen Pol Aris Budiman, Direktur Penyidikan KPK yang tak lain atasan Novel, serta Wakil Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Kombes Erwanto Kurniadi.

Brigjen Aris Budiman melaporkan Novel karena mencemarkan nama baiknya dan kini polisi telah mulai melakukan penyidikan. Kombes Erwanto juga melaporkan hal yang mirip, yaitu pernyataan Novel di salah satu media massa dianggap mencemarkan nama baik penyidik kepolisian. Kombes Erwanto Kurniadi sebelumnya penyidik KPK juga.

Sebelum ini Novel juga mengalami hal serupa dalam kasus yang terjadi belasan tahun lalu saat dia masih menjadi Kasat Reskrim Polres Bengkulu. Ia bahkan akan ditangkap di Kantor KPK, tapi rakyat menghalangi.

Yang lebih memprihatinkan sebenarnya nasib pengusutan korupsi KTP elektronik (KTP El) itu sendiri. Sebab Novel adalah penyidik senior dan penuh dedikasi. Kasus KTP ini merupakan kasus besar. Nilai korupsinya sekitar Rp 2,3 triliun dari total nilai proyek Rp 5,9 triliun. Banyak rakyat kesulitan mengurus berbagai keperluan karena tidak memiliki KTP El, tapi duit proyek sudah habis.

Banyak yang terlibat, ada yang terima puluhan miliar rupiah, sesuai peranannya. Para anggota DPR yang masuk Pansus Angket KPK konon juga ada yang disebut menerima aliran dana tersebut.
Yang menjadi pokok persoalan adalah akankah KPK sanggup memeriksa kasus ini sampai tuntas. Sebab kalau dilihat dari berbagai peristiwa yang terjadi, nampaknya akan banyak perlawanan. Lihat saja kasusnya Novel Baswedan yang ia sendiri pesimis penyiram air kerasnya akan tertangkap. Ada yang mnengaitkan kasus Novel dengan KTP El.

Kemudian matinya Johannes Merliem, pengusaha yang mensuplai salah satu jenis peralatan teknis. Dia ikut dalam tim “pemenangan” proyek sejak awal bersama Andi Narogong yang berperan penting hingga lahirnya proyek ini. Tentu ada peran orang dalam, DPR maupun pemerintah. Johannes mengetahui semua seluk beluk rencana e-KTP dan siap untuk bersaksi jika ditanya. Sayang dia meninggal duluan secara misterius di Amerika Serikat. Ada kabar dia bunuh diri.

Setelah kematian Johannes, saksi yang membeberkan penerima aliran dana, Miryam Haryani (anggota DPR/Hanura) dalam sidang dengan terdakwa dua pejabat Kemendagri, mencabut semua BAP. Kini Miryam diajukan ke pengadilan karena memberi keterangan palsu.

***

Persoalan tambah lagi ketika pengacara Elza Syarif minta perlindungan pada KPK karena merasa terancam. Dia saksi kasus keterangan palsu Miryam Haryani. Dalam wawancara televisi, dia mengatakan kecewa dengan keputusan Miryam Haryani yang mencabut seluruh BAP nya. Menurut Warta Kota 21/8/2017, Miryam juga pernah curhat pada Elza terkait bocornya BAP yang menyebabkan dia merasa dihukum oleh teman-temannya di DPR. Tapi KPK meyakinkan bocornya bukan dari pihak KPK. Konon dari panitera pengadilan.

Untuk mengungkap satu dua kasus KTP El mungkin KPK masih bisa tapi membuka semuanya belum bisa diramal. Karena banyak kendalanya.

Sementara itu Operasi Tangkap Tangan yang dilakukan KPK masih berjalan terus. Tidak hanya pejabat birokrasi tapi juga pejabat hukum. Terakhir hakim dan panitera Pengadilan Tipikor Bengkulu juga kena OTT. Sebelumnya jaksa juga ada yang kena OTT. Jadi masih sulit diukur sejauh mana integritas para hamba hukum ini.

Ketua DPR Setya Novanto yang sudah ditetapkan sebagai tersangka akan mengajukan gugatan praperadilan dan sidangnya dimulai minggu depan. Ini akan menjadi batu ujian bagi aparat.
Terakhir Panitia Khusus angket DPR mengancam akan membekukan KPK. Nah semakin jelas tujuan Pansus angket, dari semula ingin memperkuat KPK, terakhir akan membekukan.

Rakyat tinggal mengingat-ingat saja siapa dan dari partai mana saja anggota Pansus Angket ini agar bisa menjadi pertimbangan dalam memilih pada pemilu 2019. Partai-partai yang selama ini dianggap berseberangan dengan pemerintah justru menjadi pendukung utama KPK. Bagi rakyat bukan partainya yang penting tapi programnya, karena itu tidak haram memilih mereka. Kasus Novel Baswedan hanyalah petunjuk betapa rumitnya korupsi KTP El.(*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help