BanjarmasinPost/

Berita Regional

Duh, Gara-gara 6 Juta, Bayi Debora Meninggal karena Ortu Tak Bisa Penuhi Permintaan RS

Rumah sakit tidak lagi dibenarkan meminta bayaran uang muka atau down payment (DP) kepada pasien yang kondisinya sudah gawat darurat.

Duh, Gara-gara 6 Juta, Bayi Debora Meninggal karena Ortu Tak Bisa Penuhi Permintaan RS
Halaman 1 Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Senin (11/9/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Rumah sakit tidak lagi dibenarkan meminta bayaran uang muka atau down payment (DP) kepada pasien yang kondisinya sudah gawat darurat.

Gara-gara soal DP ini, Tiara Debora, anak dari pasangan Henny Silalahi dan Rudianto,meninggal dunia setelah tidak menerima penanganan medis karena uang muka perawatan dari orangtua tidak mencukupi di RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, Minggu (10/9).

Dalam instruksi tersebut, Dinas Kesehatan memerintahkan seluruh rumah sakit di Jakarta untuk mendahulukan penanganan pasien gawat darurat tanpa menarik uang muka terlebih dahulu. “Nanti hari Senin kami keluarkan instruksi untuk selanjutnya apabila ada orang yang sakit seperti itu, pertama tidak diperbolehkan menarik uang muka, harus segera menangani pasiennya terlebih dahulu terhadap keadaan kegawatdaruratan itu,” tandas Koesmedi Priharto, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta

Selain itu, Dinkes DKI juga memerintahkan seluruh rumah sakit untuk mencarikan rumah sakit lain sebagai rujukan jika diperlukan. Dinkes DKI tidak ingin pasien yang justru mencari rumah sakit rujukan tersebut.

“Kalau pasien harus dirujuk, yang mencari tempat rujukannya bukan pasien, tapi rumah sakit yang harus mencari tempat rujukannya,” tegas dia.

Koesmedi menyebut instruksi itu berlaku bagi seluruh rumah sakit di Jakarta, baik rumah sakit umum daerah, rumah sakit pemerintah, maupun rumah sakit swasta. Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga akan memanggil manajemen Rumah Sakit Mitra Keluarga.

“Jawaban dari manajemen (RS) berbeda dengan (cerita) yang beredar di media. Hari Senin kami panggil bersama BPRS (Badan Pengawas Rumah Sakit), Kemenkes, dan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) untuk mencari kejadian yang sebenarnya,” kata Koesmedi.

Debora yang baru berusia 4 bulan sempat dirawat di RS Mitra Keluarga pada hari Minggu (3/9). Setibanya di RS pada Minggu dinihari, sekitar pukul 03.40 WIB, bayi Debora langsung diberi penanganan pertama oleh petugas jaga. Namun, kondisinya belum pulih dan RS menyarankan agar Debora ditangani di Intensive Care Unit (ICU).

Menurut Rudi dan Henny, mereka ingin anaknya segera dirawat tetapi pihak RS tidak bisa menerima Debora karena uang muka perawatan sekitar belasan juta belum bisa diberikan mereka saat itu. “Kami sudah panik dan langsung dibawa ke rumah sakit, Debora batuk pilek dan sesak napas,” kata Henny.

Dokter jaga saat itu Irene Arthadinanty langsung melakukan pertolongan kepada bayi Debora dengan melakukan penyedotan. Debora dipasangi berbagai macam alat monitor, infus, uap dan diberi obat-obatan. Sekitar pukul 03.30 WIB, Debora sudah bisa bernapas tetapi masih menangis. “Saya pikir sudah sembuh lalu saya dipanggil sama dokter dia bilang ini harus masuk ruang PICU(Pediatric Intensive Care Unit) karena sudah empat bulan usianya, tapi dokter langsung bilang disini enggak terima BPJS,” kata Henny.

Rudianto dan Henny pun langsung mengurus administrasi anaknya agar bisa dirawat di ruang PICU. Rudianto lalu menghadap ke bagian administrasi lalu disodorkan semacam daftar harga. Uang muka untuk pelayanan PICU Rp 19.800.000. “Saya bilang saya enggak bawa duit sama sekali, cuma sempat bawa kunci sama baju. Tetapi mereka bilang harus bayar DP,” ungkap Rudianto.

Dia pun kemudian kembali ke rumah unuk mengambil dompet dan langsung menarik semua uangnya di ATM yang berjumlah Rp 5 juta. Uang itu kemudian dibawa ke bagian administrasi, namun karena jumlahnya tidak cukup, sang petugas kemudian menghubungi atasannya.

Tidak lama kemudian si petugas kembali dan me­ngem­balikan uang Rudianto sembari mengatakan bahwa anaknya tidak bisa dirawat di ruang PICU karena jumlah uang yang kurang. “Disitu saya memohon-mohon sang­at, saya bilang nanti siang saya bayar kekurangannya, saya punya saudara bisa diusahakan. Petugas tetap bilang tidak bisa,” kata Rudianto. (dik/ajg/hid/wly)

Baca Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Senin (11/9/2017)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help